Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Roberto De Zerbi Terancam di Tottenham, Belanja £380 Juta tetapi Spurs Malah Jadi Juru Kunci

Roberto De Zerbi Terancam di Tottenham, Belanja £380 Juta tetapi Spurs Malah Jadi Juru Kunci

  • September 25, 2026

Roberto De Zerbi memasuki jeda internasional dengan situasi yang hampir tidak terbayangkan ketika Tottenham Hotspur membangun ulang skuad pada musim panas. Spurs menghabiskan sekitar £380 juta untuk sepuluh pemain, tetapi justru terpuruk di dasar klasemen Liga Inggris.

Lima pertandingan liga pertama hanya menghasilkan dua poin, tanpa satu pun kemenangan, sementara Tottenham baru mencetak dua gol. Lebih buruk lagi, kedua gol tersebut baru datang ketika Spurs kalah 2-3 dari Aston Villa di kandang sendiri.

Angka pengeluaran memang berbeda tergantung metode perhitungan karena sejumlah media memasukkan struktur pembayaran dan kewajiban transfer secara berbeda. Reuters dan Sky Sports menyebut investasi melampaui £300 juta, sedangkan laporan lain menghitung pengeluaran kotor Tottenham mendekati £380-389 juta.

Apa pun metode hitungnya, kesimpulannya tetap sama: Roberto De Zerbi memperoleh dukungan finansial yang luar biasa untuk mengubah Tottenham. Karena itu, posisi juru kunci setelah lima pertandingan membuat tekanan terhadap pelatih asal Italia tersebut jauh lebih sulit diredam.

Tottenham sebenarnya berharap musim 2026/2027 menjadi titik balik setelah dua musim berturut-turut finis di peringkat ke-17 Liga Inggris. Roberto De Zerbi datang pada Maret lalu dan berhasil menyelamatkan klub dari degradasi, kemudian memperoleh kesempatan membentuk skuadnya sendiri.

Namun, proyek tersebut justru memulai musim dengan catatan terburuk Tottenham dalam 18 tahun setelah lima pertandingan. Spurs bukan hanya gagal menang, tetapi juga menunjukkan masalah yang lebih mendalam pada penyelesaian akhir, konsistensi permainan, dan ketahanan mental ketika pertandingan berubah arah.

Roberto De Zerbi Punya Masalah Lebih Besar daripada Hasil

Permasalahan Roberto De Zerbi sebenarnya tidak sesederhana melihat dua poin dari lima pertandingan karena Tottenham beberapa kali menunjukkan fase permainan menjanjikan. Saat menghadapi Aston Villa, Spurs menciptakan sejumlah peluang bagus pada babak pertama sebelum kehilangan kendali setelah gagal mencetak gol.

Zion Suzuki melakukan beberapa penyelamatan penting dari peluang Dominic Solanke, Archie Gray, dan Savio ketika Tottenham masih mendominasi. Tetapi kegagalan memanfaatkan momentum kembali menghukum Spurs, sebelum Aston Villa membangun keunggulan tiga gol dan akhirnya menang 3-2.

Roberto De Zerbi bahkan mengakui kekalahan tersebut sulit diterima sekaligus sulit dijelaskan setelah melihat timnya kembali gagal mengubah permainan bagus menjadi hasil. Fokus utamanya kemudian beralih kepada kurangnya komunikasi dan disiplin ketika Tottenham berada dalam situasi bertahan.

Masalah itu penting karena gaya Roberto De Zerbi membutuhkan keberanian memainkan bola dari bawah sekaligus struktur posisi yang sangat disiplin. Ketika satu pemain terlambat mengambil keputusan, ruang yang muncul bisa langsung dieksploitasi lawan melalui transisi atau umpan langsung.

Tottenham juga mengalami masalah serius dalam mencetak gol sebelum akhirnya memecahkan kebuntuan melawan Aston Villa. Opta mencatat Spurs gagal mencetak gol dalam empat pertandingan liga pertama musim ini, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah klub.

Sebelum menghadapi Villa, Tottenham bahkan telah melewati 407 menit pertandingan Liga Inggris tanpa mencetak gol. Hanya Crystal Palace pada musim 2017/2018 yang pernah menjalani awal musim Premier League dengan puasa gol lebih panjang daripada Spurs.

Ironisnya, Roberto De Zerbi dikenal sebagai pelatih yang identik dengan sepak bola progresif dan kemampuan membangun serangan dari belakang. Ketika timnya justru kesulitan menghasilkan gol, masalah tersebut menyentuh langsung bagian permainan yang seharusnya menjadi identitas terkuatnya.

Kondisi itu tidak sepenuhnya berarti Tottenham bermain tanpa struktur, karena beberapa indikator menunjukkan adanya pola permainan yang mulai terbentuk. Analisis awal bahkan mencatat Spurs cukup agresif dalam progressive passes dan dribel sukses, tetapi belum mampu mengubah dominasi menjadi peluang berkualitas secara konsisten.

Persoalan terbesar berada pada area akhir karena pergerakan dan penguasaan bola belum menghasilkan efisiensi serangan yang sebanding. Spurs memasuki pertandingan melawan Aston Villa sebagai salah satu dari dua tim dengan total expected goals terendah pada awal musim Liga Inggris.

Situasi tersebut menjadi semakin aneh ketika melihat banyaknya pemain ofensif yang tersedia setelah belanja besar musim panas. Savio, Omar Marmoush dan sejumlah pemain baru seharusnya memperluas variasi serangan, tetapi integrasi mereka dengan struktur Roberto De Zerbi belum selesai.

Roberto De Zerbi dan Risiko Perombakan Terlalu Besar

Salah satu penjelasan paling logis adalah Tottenham mengubah terlalu banyak hal dalam waktu yang sangat singkat. Lebih dari separuh susunan pemain melawan Aston Villa bukan bagian dari skuad musim sebelumnya, sehingga hubungan antarpemain masih harus dibangun di tengah tuntutan mendapatkan hasil.

Sepuluh pemain baru mungkin meningkatkan kualitas individu, tetapi perubahan besar juga menciptakan persoalan baru berupa chemistry dan otomatisasi permainan. Sistem Roberto De Zerbi sangat bergantung pada pemain memahami posisi rekan, tekanan lawan, serta momen tepat untuk memainkan umpan vertikal.

Sandro Tonali, Mateus Fernandes, Savio hingga Marmoush datang dengan profil berbeda dan membutuhkan waktu untuk memahami struktur baru. Tottenham memperoleh talenta yang lebih banyak, tetapi Roberto De Zerbi harus mengubah kumpulan individu tersebut menjadi unit yang bergerak dengan pemahaman sama.

Waktu justru menjadi komoditas yang semakin sedikit karena hasil buruk membuat proses pembangunan tim sulit berlangsung tanpa tekanan. Tottenham kini tidak hanya menghadapi pertanyaan mengenai target Eropa, tetapi kembali terseret dalam pembicaraan mengenai zona degradasi setelah pengalaman buruk musim sebelumnya.

Kekalahan 1-3 dari Liverpool di putaran ketiga Carabao Cup memperbesar masalah Roberto De Zerbi meski performa Tottenham sebenarnya cukup kompetitif. Spurs membuat 17 percobaan dan hampir menyamakan skor melalui Marmoush sebelum Dominik Szoboszlai memastikan kemenangan Liverpool pada masa tambahan waktu.

Selepas pertandingan tersebut, Roberto De Zerbi masih yakin timnya akan memenangkan banyak pertandingan setelah semua bagian permainan mulai terhubung. Optimisme itu masuk akal dari perspektif proses, tetapi setiap pertandingan tanpa kemenangan membuat ruang untuk menunggu menjadi semakin sempit.

Tekanan terbesar kemudian datang saat kalah dari Aston Villa karena problem lama kembali muncul hanya empat hari setelah tersingkir dari Carabao Cup. Tottenham memulai dengan baik, gagal mencetak gol, kehilangan kendali, kemudian baru bereaksi ketika pertandingan praktis sudah terlepas.

Reuters mencatat kekalahan tersebut membuat Tottenham menjalani awal liga terburuk sejak 2008, sementara performa domestik sepanjang 2026 juga sangat lemah. Sky Sports mencatat Spurs hanya mengumpulkan 18 poin dalam pertandingan Liga Inggris sepanjang tahun kalender tersebut.

Itulah alasan mengapa persoalan Roberto De Zerbi tidak dapat dipisahkan dari dua musim buruk sebelumnya meski skuad sekarang telah berubah besar. Tottenham bukan tim bagus yang mendadak kehilangan performa selama sebulan, melainkan klub yang sedang mencoba keluar dari kemerosotan panjang.

Roberto De Zerbi Terancam, Seberapa Serius Opsi Eddie Howe?

Dalam situasi seperti itu, spekulasi mengenai masa depan Roberto De Zerbi hampir tidak bisa dihindari. Fichajes, yang kemudian dikutip sejumlah media internasional, melaporkan manajemen Tottenham mulai mengevaluasi alternatif meskipun perubahan pelatih belum diperkirakan terjadi selama jeda internasional.

Nama Eddie Howe kemudian mencuat karena mantan pelatih Newcastle United tersebut sedang tidak menangani klub. Howe meninggalkan Newcastle pada akhir Juli setelah hampir lima tahun, dengan pencapaian berupa trofi Carabao Cup dan dua kali membawa klub lolos Liga Champions.

Howe mempunyai satu keuntungan jelas dibanding sebagian kandidat lain, yakni pengalaman langsung menangani proyek pembangunan klub di Liga Inggris. Ia mengambil Newcastle ketika berada di zona degradasi, kemudian membawa mereka berkembang menjadi klub yang mampu bersaing di papan atas.

Namun, keterkaitan Howe dengan Tottenham masih harus diperlakukan sebagai spekulasi karena belum ada pengumuman atau pernyataan resmi klub. Beberapa rumah taruhan memang memperpendek peluang Howe menggantikan Roberto De Zerbi, tetapi pergerakan odds bukan bukti adanya negosiasi formal.

Mantan pencari bakat senior Tottenham Bryan King juga mengatakan Howe seharusnya masuk daftar calon apabila klub memutuskan mengganti pelatih. Pernyataan tersebut memperkuat logika pencalonannya, tetapi tetap merupakan pandangan eksternal dan bukan konfirmasi mengenai rencana manajemen.

Mauricio Pochettino juga terus muncul karena hubungan emosionalnya dengan Tottenham, tempat ia pernah membawa klub mencapai final Liga Champions 2019. Namun, Pochettino kini menangani tim nasional Amerika Serikat dan sebelumnya mengakui komitmen tersebut membuat kepulangannya sulit diwujudkan dalam waktu dekat.

Faktor lain yang membuat keputusan terhadap Roberto De Zerbi rumit adalah kontraknya yang masih sangat panjang. Pelatih Italia tersebut menandatangani kesepakatan lima tahun hingga 2031 ketika datang pada Maret, tanpa klausul pemutusan khusus apabila Tottenham terdegradasi.

Laporan awal memperkirakan Tottenham dapat menghadapi biaya kompensasi lebih dari £10 juta jika memutuskan hubungan kerja sekarang, meski angka resminya tidak pernah diumumkan klub. Karena itu, pergantian pelatih bukan hanya keputusan teknis, melainkan juga keputusan finansial yang cukup besar.

Jeda internasional selama tiga pekan akhirnya menjadi periode sangat penting bagi Roberto De Zerbi untuk memperbaiki struktur permainan tanpa tekanan pertandingan. Ia mempunyai waktu mengintegrasikan pemain baru, memperbaiki ketajaman, sekaligus mencari solusi terhadap kerapuhan yang beberapa kali ia kritik sendiri.

Ujian berikutnya tidak ringan karena Tottenham dijadwalkan bertandang menghadapi Manchester United ketika Liga Inggris kembali bergulir pada 10 Oktober. Pertandingan tersebut berpotensi menjadi ukuran awal apakah masa latihan tambahan benar-benar menghasilkan perubahan atau hanya menunda persoalan yang sama.

Tottenham sebenarnya belum berada pada titik ketika musim mereka tidak bisa diselamatkan karena kompetisi baru berjalan lima pertandingan. Akan tetapi, investasi lebih dari £300 juta membuat Roberto De Zerbi tidak mempunyai kemewahan menggunakan proses pembangunan skuad sebagai alasan tanpa batas waktu.

Masalah utamanya bahkan bukan posisi terakhir semata, melainkan jarak antara investasi, ekspektasi dan kualitas hasil yang sangat besar. Klub membeli banyak pemain untuk meninggalkan perjuangan degradasi, tetapi lima pertandingan pertama justru membawa Tottenham kembali ke tempat yang ingin mereka tinggalkan.

Karena itu, beberapa pekan berikutnya akan menentukan apakah Roberto De Zerbi hanya mengalami awal buruk dalam proyek besar atau memang gagal mengendalikan perubahan terlalu cepat. Tottenham membutuhkan kemenangan, tetapi lebih penting lagi mereka membutuhkan tanda bahwa permainan mulai menghasilkan sesuatu yang bisa dipertahankan.

Jika struktur serangan membaik dan pemain baru mulai menemukan chemistry, Tottenham masih mempunyai kualitas untuk bergerak cepat meninggalkan dasar klasemen. Namun apabila pola kegagalan terus berulang, pembicaraan mengenai Eddie Howe atau kandidat lain kemungkinan tidak lagi sekadar rumor di sekitar klub.

Chelsea Bisa Cetak Enam Gol, tetapi Satu Statistik Ini Mengancam Musim Xabi Alonso

25 Sep 2026

Ballon d’Or 1972: Tahun Ajaib yang Melahirkan Zidane, Rivaldo, Figo, dan Nedved

25 Sep 2026

Roma Bukan Tim Kejutan Lagi, Gasperini Sudah Punya Cara Mengganggu Inter

25 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.