Chelsea memasuki musim 2026/27 dengan wajah menyerang yang jauh lebih berani, cepat, dan produktif di bawah Xabi Alonso. Namun, di balik ledakan gol itu, satu masalah lama justru terus muncul dan berpotensi menentukan arah musim mereka.
Sky Sports mencatat Chelsea telah kebobolan 23 gol dari situasi bola mati sejak awal musim lalu, jumlah terburuk bersama di Premier League dalam periode tersebut. Empat di antaranya bahkan terjadi hanya dalam lima pertandingan liga pertama musim ini.
Kontrasnya sangat mencolok karena The Blues mampu mencetak banyak gol dengan berbagai pola serangan, termasuk kemenangan 3-2 atas Fulham, 4-3 atas Brighton, dan 6-3 atas Leeds di Carabao Cup. Pertandingan-pertandingan itu menunjukkan kapasitas ofensif sekaligus rapuhnya kontrol.
Masalah tersebut akhirnya terlihat telanjang ketika Brentford menang 3-0 pada derby London barat, setelah Chelsea kembali kebobolan melalui skema bola mati. Jaidon Anthony mencetak gol pembuka setelah Brentford mengeksploitasi area tiang jauh yang dianggap terlalu terbuka.
Kekalahan itu bukan sekadar satu malam buruk, karena Chelsea sudah menjalani 22 pertandingan Premier League beruntun tanpa clean sheet. Rata-rata mereka juga kebobolan 2,2 gol non-penalti per laga musim ini, angka yang membuat produktivitas lini depan terasa kurang terlindungi.
Masalah Bola Mati Bukan Lagi Kebetulan
Set-piece biasanya dipandang sebagai detail kecil dibandingkan organisasi serangan atau penguasaan bola, tetapi data Chelsea menunjukkan sebaliknya. Ketika 23 gol sudah masuk melalui situasi tersebut dalam rentang sekitar satu musim, persoalannya berubah menjadi pola yang harus dijelaskan.
Brentford hanya mempertegas kelemahan yang sebelumnya sudah terlihat ketika menghadapi Hull City, saat Chelsea kembali kehilangan kontrol setelah kebobolan dari situasi bola mati. Lawan kini memiliki cukup banyak contoh untuk mengetahui area mana yang bisa diserang.
Yang paling mengkhawatirkan bukan semata jumlah gol, melainkan bagaimana Chelsea sering kalah dalam duel pertama atau gagal mengamankan bola kedua. Pada level Premier League, satu kegagalan kecil semacam itu cukup untuk mengubah pertandingan yang sebelumnya berada dalam kendali.
Chelsea sebenarnya sudah mencoba memperbaiki sektor ini dengan mendatangkan Austin MacPhee sebagai pelatih khusus set-piece pada musim panas. Alonso menyebut klub ingin memiliki spesialis terbaik di setiap area, termasuk fase menyerang, bertahan, dan bola mati.
Namun, kehadiran spesialis tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila eksekusi pemain belum konsisten. Levi Colwill mengakui Chelsea beberapa kali kalah secara fisik dalam situasi tersebut, meski ia menegaskan skuad masih beradaptasi dengan metode baru.
Masalahnya juga tidak berhenti pada tendangan sudut atau lemparan panjang, karena Chelsea terlalu mudah ditembus menuju area penalti. Sky Sports mencatat mereka termasuk tiga tim terbanyak dalam jumlah tembakan yang dibiarkan terjadi di dalam kotak sendiri.
Artinya, set-piece hanyalah bagian paling terlihat dari persoalan pertahanan yang lebih luas. Chelsea belum konsisten menjaga jarak antarlini, memenangkan duel, melindungi tiang jauh, dan mempertahankan struktur ketika pertandingan berubah menjadi lebih fisik.
Serangan The Blues Justru Sudah Memberi Banyak Jawaban
Ironisnya, fase menyerang Chelsea justru berkembang cepat dan memberikan alasan bagi pendukung untuk optimistis. Morgan Rogers, yang datang dari Aston Villa dalam transfer senilai sekitar 117 juta pound, langsung menghasilkan tiga gol dan satu assist pada empat laga awal.
Rogers bukan hanya mencetak gol, tetapi juga menjadi pemain Chelsea dengan peluang tercipta dan umpan menuju kotak penalti terbanyak setelah empat pekan. Data tersebut menunjukkan pengaruhnya sudah masuk ke struktur serangan, bukan sekadar muncul melalui momen individual.
Joao Pedro juga memulai musim dengan sangat kuat setelah menghasilkan tiga gol dan tiga assist dalam empat pertandingan pertama. Ia bahkan memenangkan penghargaan Premier League Player of the Month untuk Agustus setelah dua gol dan dua assist dalam dua laga awal.
Kombinasi Rogers dan Joao Pedro memberi Alonso dua pemain yang mampu menciptakan, membawa bola, dan menyelesaikan serangan. Itu membuat Chelsea tidak harus selalu bergantung pada satu sumber kreativitas ketika menghadapi blok rendah ataupun pertandingan dengan ruang terbuka.
Kemenangan 4-3 atas Brighton menjadi gambaran ekstrem mengenai identitas baru tersebut karena Chelsea hanya menguasai 26 persen bola. Mereka tetap mampu menciptakan serangan langsung yang efektif, mencetak empat gol, dan memaksimalkan transisi dengan sangat agresif.
Chelsea bahkan mencetak 14 gol dalam tiga pertandingan pertama di semua kompetisi, menegaskan bahwa proses ofensif Alonso berkembang lebih cepat daripada struktur bertahannya. Perbedaan kecepatan perkembangan dua fase permainan inilah yang kemudian menciptakan pertandingan-pertandingan liar.
Ketika tim mampu mencetak tiga atau empat gol, kekurangan di belakang masih bisa tertutup oleh kualitas individual dan momentum. Namun, model seperti itu sulit menjadi fondasi musim panjang karena tidak setiap pertandingan memberi Chelsea ruang untuk mencetak sebanyak itu.
Hull memberikan peringatan ketika Chelsea hanya bermain 2-2 setelah sebelumnya mampu menciptakan start cepat melalui gol Rogers. Brentford kemudian memberikan hukuman lebih berat, karena Chelsea gagal mencetak gol untuk pertama kalinya musim ini dan pertahanannya tetap rapuh.
Xabi Alonso Menghadapi Masalah Struktur, Bukan Sekadar Bek
Kehilangan Moises Caicedo menjadi salah satu faktor penting karena Chelsea kehilangan pemain yang biasanya melindungi area depan pertahanan. Sky Sports menyoroti bahwa absennya Caicedo membuat tim kehilangan kontrol, terutama ketika lawan mulai memenangi duel dan bola kedua.
Kepergian Enzo Fernandez pada hari terakhir bursa transfer juga mengubah keseimbangan lini tengah, sementara Chelsea tidak mendapatkan pengganti langsung. Alonso kemudian harus menggunakan kombinasi yang kurang teruji seperti Romeo Lavia dan Reece James di area sentral.
Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa masalah pertahanan tidak adil jika hanya dibebankan kepada bek tengah atau penjaga gawang. Ketika tekanan pertama gagal dan lini tengah terlambat menutup ruang, lini belakang menghadapi lebih banyak duel dalam kondisi tidak ideal.
Alonso sendiri mengakui persoalan Chelsea lebih luas daripada bola mati setelah kekalahan melawan Brentford. Ia menyebut duel defensif, build-up, dan kemampuan mengontrol pertandingan sebagai area lain yang masih harus diperbaiki dalam proses membangun tim.
Ucapan itu penting karena menunjukkan staf pelatih tidak melihat 23 gol dari set-piece sebagai masalah yang berdiri sendiri. Kerentanan tersebut berhubungan dengan konsentrasi, kekuatan duel, organisasi blok, dan kemampuan tim mempertahankan kontrol ketika momentum berubah.
Chelsea juga memiliki tujuh pemain baru dalam susunan awal ketika kalah di Brentford, sementara Alonso merupakan pelatih keempat klub dalam sembilan bulan. Konteks tersebut menjelaskan mengapa otomatisasi permainan belum sempurna, meskipun tidak bisa menjadi alasan permanen untuk kelemahan yang berulang.
Tekanan terhadap Alonso tetap besar karena Chelsea menghabiskan banyak uang dan memiliki lini depan dengan kualitas tinggi. Sky Sports menilai kualifikasi Liga Champions setidaknya menjadi standar minimal, terutama karena klub tidak bermain di kompetisi Eropa musim ini.
Setelah lima pertandingan, Chelsea sudah tertinggal tujuh poin dari posisi teratas, sehingga margin kesalahan mulai mengecil meskipun musim masih panjang. Setiap gol dari bola mati kini bukan sekadar kebobolan, tetapi berpotensi menghapus keuntungan yang sudah dibangun oleh lini depan.
Bola Mati Bisa Menentukan Batas Musim Chelsea
Chelsea sebenarnya memiliki modal untuk memperbaiki persoalan tersebut karena MacPhee memberi staf kepelatihan keahlian khusus yang sebelumnya terbukti di Premier League. Waktu latihan tanpa kompetisi Eropa juga seharusnya memberikan Alonso lebih banyak kesempatan memperbaiki detail pertahanan.
Namun, perbaikannya harus terlihat dalam pertandingan, terutama ketika menghadapi tim yang sengaja mengejar duel udara, second ball, dan situasi bola mati. Setelah kelemahan menjadi pola publik, lawan hampir pasti akan terus menguji area yang sama sampai Chelsea mampu menghentikannya.
Di sisi lain, serangan mereka sudah cukup kuat untuk membawa tim bersaing di papan atas apabila keseimbangan dapat ditemukan. Rogers, Joao Pedro, Cole Palmer, dan Pedro Neto memberi Alonso variasi yang memungkinkan Chelsea mencetak gol melalui transisi maupun serangan terstruktur.
Karena itu, persoalan terbesar Chelsea saat ini bukan bagaimana menciptakan lebih banyak peluang, melainkan bagaimana memastikan satu atau dua momen defensif tidak menghapus pekerjaan menyerang. Tim dengan ambisi besar membutuhkan kemampuan memenangkan pertandingan ketika hanya mampu mencetak satu gol.
Statistik 23 gol dari situasi bola mati menjadi alarm karena kelemahan tersebut sudah melintasi pergantian musim dan pelatih. Jika tidak segera diperbaiki, lawan tidak perlu menemukan cara baru untuk mengganggu Chelsea karena formula yang sama masih menghasilkan peluang.
Sebaliknya, jika Alonso mampu memperbaiki set-piece dan mengembalikan kontrol lini tengah, potensi Chelsea dapat berubah secara signifikan. Serangan mereka sudah menunjukkan kualitas untuk mencetak banyak gol, sehingga sedikit peningkatan defensif dapat memberi efek besar terhadap hasil akhir.
Musim Chelsea pada akhirnya mungkin tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka mampu mencetak empat atau enam gol dalam satu malam. Ukurannya justru bisa datang dari kemampuan mempertahankan keunggulan, memenangi duel sederhana, dan membersihkan satu bola mati pada saat paling menentukan.


