Manchester City bukan sekadar berubah menjadi klub juara setelah kedatangan Abu Dhabi United Group pada 2008, tetapi ikut mengubah struktur kekuatan Premier League secara permanen. Dalam 12 musim, City kemudian merebut delapan gelar liga, Liga Champions, dan sederet trofi domestik.
Transformasi Manchester City itulah yang kini kembali diperdebatkan setelah persoalan finansial klub memunculkan pertanyaan besar mengenai sejarah kompetisi Inggris selama hampir dua dekade. Pertanyaannya sederhana tetapi sulit dijawab: bagaimana wajah Premier League jika revolusi City tidak pernah terjadi?
CBS Sports menilai pengambilalihan Manchester City oleh Abu Dhabi sebagai salah satu titik balik terbesar sepak bola Inggris abad ke-21. Klub yang sebelumnya terakhir meraih trofi besar pada 1970-an mendadak berubah menjadi salah satu kekuatan paling dominan di Eropa.
Perdebatan menjadi semakin tajam karena klub-klub rival bukan hanya kehilangan trofi, tetapi mungkin juga kehilangan kesempatan mendapatkan pendapatan Liga Champions dan kontrak komersial bernilai puluhan juta pound. Efek Manchester City karena itu jauh melampaui sekadar perubahan daftar juara.
Pada akhir musim 2007/08, Manchester City sebenarnya hanyalah tim papan tengah dengan 55 poin dan finis di posisi kesembilan. Investasi sekitar 30 juta pound pada era Thaksin Shinawatra belum mampu mengubah mereka menjadi penantang serius papan atas.
Ketika itu, Premier League masih dikuasai kelompok yang dikenal sebagai Big Four, yakni Manchester United, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea. Sejak Roman Abramovich mengambil alih Chelsea, empat klub tersebut hampir selalu menguasai seluruh tiket Liga Champions.
Namun tepat di belakang kelompok tersebut terdapat sejumlah klub yang sedang membangun momentum, terutama Everton, Aston Villa, dan Tottenham Hotspur. Mereka memiliki skuad kompetitif dan hanya membutuhkan satu musim buruk dari klub elite untuk menyusup ke empat besar.
Manchester City Menutup Jalan Aston Villa dan Everton
Everton menjadi klub pertama yang membuktikan bahwa dominasi Big Four masih bisa ditembus dengan sumber daya terbatas. Di bawah David Moyes, The Toffees secara konsisten mampu finis kelima atau keenam meski tidak memiliki kekuatan finansial seperti rival-rivalnya.
Perbedaan modal terlihat jelas pada musim panas 2008 ketika Manchester City mendatangkan Robinho, sementara pembelian terbesar Everton adalah Marouane Fellaini seharga 15 juta pound. Sebagian biaya transfer Fellaini bahkan ditutup dari penjualan Andrew Johnson ke Fulham.
Ketimpangan tersebut kemudian digambarkan Moyes dengan kalimat terkenal ketika menghadapi kekuatan baru Manchester City. Ia menyebut tantangan menghadapi City seperti masuk ke baku tembak hanya dengan membawa pisau, gambaran sederhana mengenai jurang finansial yang mulai muncul.
Jika Everton sudah mengalami keterbatasan dana sebelum Manchester City bangkit, Aston Villa justru berada dalam posisi berbeda. Klub asal Birmingham itu sedang membangun salah satu proyek paling menjanjikan di luar empat kekuatan utama Premier League.
Villa memiliki generasi muda seperti Gabriel Agbonlahor dan Gareth Barry yang diperkuat James Milner, Ashley Young, serta Nigel Reo-Coker. Pemilik Randy Lerner datang pada 2006 dengan ambisi membawa Aston Villa bersaing di level tertinggi Inggris dan kompetisi Eropa.
Lerner pada akhirnya menghabiskan lebih dari 300 juta pound selama kepemilikannya sebelum meninggalkan Villa ketika klub terdegradasi satu dekade kemudian. Sebelum revolusi Manchester City, investasi sebesar itu mungkin sudah cukup untuk membuat sebuah klub konsisten bersaing di papan atas.
Nigel Reo-Coker mengingat suasana ruang ganti Villa pada awal musim 2008/09 sebagai periode ketika Liga Champions terasa semakin dekat. Bahkan musim mereka dimulai dengan kemenangan meyakinkan atas Manchester City yang ketika itu masih berada dalam fase awal transformasi.
Menurut Reo-Coker, Aston Villa merasa sebagai tim luar yang siap menerobos kelompok elite dan hanya membutuhkan satu dorongan tambahan. Mereka memiliki momentum, pemain-pemain penting masih bahagia, dan target utama saat itu memang menembus empat besar.
Kondisi kompetisi juga mendukung peluang tersebut karena hanya tersedia empat tiket Liga Champions dengan kelompok elite yang relatif kecil. Satu kesalahan dari Arsenal, Liverpool, Chelsea, atau Manchester United bisa membuka pintu bagi Villa, Everton, maupun Tottenham.
Kemudian Manchester City dibeli Abu Dhabi United Group dan skala persaingan berubah hampir dalam semalam. Pemain-pemain yang pernah menyaksikan revolusi Chelsea beberapa tahun sebelumnya langsung memahami bahwa sebuah kekuatan finansial baru telah hadir di Premier League.
Reo-Coker menggambarkan situasi tersebut sebagai momen ketika pemain mulai melihat pasar dengan cara berbeda karena uang mengubah permainan. Kehadiran Manchester City membuat pesepak bola elite sadar ada destinasi baru dengan kemampuan finansial yang sulit disaingi klub tradisional.
Dampaknya segera terasa di Aston Villa ketika perjuangan mempertahankan Gareth Barry akhirnya gagal pada musim panas pertama penuh Manchester City di bawah pemilik baru. James Milner mengikuti pada 2010, kemudian Fabian Delph pindah lima tahun setelahnya.
Everton mengalami pola serupa setelah Joleon Lescott bergabung dengan Manchester City, kemudian disusul Jack Rodwell dan John Stones pada tahun-tahun berikutnya. Klub yang awalnya ingin menantang elite justru kehilangan sejumlah pemain terbaiknya kepada kekuatan baru tersebut.
Harga Persaingan Premier League Berubah
Masalah bagi Aston Villa dan Everton bukan hanya kehilangan pemain, melainkan perubahan total pada harga yang diperlukan untuk bersaing. Pemilik klub lain tidak lagi mampu menyamai level belanja yang diperkenalkan Manchester City tanpa mengambil risiko finansial besar.
Ironisnya, Villa dan Everton kemudian menjadi klub yang justru kerap bersinggungan dengan regulasi pengeluaran Premier League. Aston Villa di bawah Nassef Sawiris beberapa kali berada dekat batas belanja, sementara pemain penting harus dilepas agar kondisi keuangan tetap memenuhi aturan.
Everton bahkan pernah mendapat pengurangan enam poin karena pelanggaran Profitability and Sustainability Rules ketika Farhad Moshiri berupaya membangun tim menuju kelompok elite. Mereka juga harus menghadapi konsekuensi finansial dari sengketa dengan Burnley setelah periode pengeluaran besar tersebut.
Arsenal turut merasakan perubahan pasar ketika Emmanuel Adebayor dan Kolo Toure pindah ke Manchester City pada 2009. Dua tahun kemudian, Samir Nasri dan Gael Clichy mengikuti langkah yang sama menuju Etihad Stadium.
Namun situasi Arsenal berbeda karena klub London Utara memang membutuhkan pemasukan untuk membiayai perpindahan ke Emirates Stadium. Dalam waktu relatif singkat, Arsenal menerima sekitar 72 juta pound dari transfer pemain ke Manchester City, angka sangat besar pada masa tersebut.
David Dein pernah menggambarkan munculnya kekuatan finansial baru sebagai tank yang berada di halaman depan Arsenal sambil menembakkan uang. Strategi pembangunan stadion yang mengandalkan pertumbuhan pendapatan pertandingan tiba-tiba berhadapan dengan perubahan ekonomi sepak bola yang jauh lebih agresif.
Arsene Wenger kemudian menyebut fenomena tersebut sebagai “financial doping”, terutama ketika Manchester City semakin dominan. Kekalahan Arsenal 0-3 dari City pada final Piala Liga 2018 menjadi simbol seberapa jauh keseimbangan kekuatan telah bergeser.
Meski demikian, sulit mengatakan Manchester City sepenuhnya mengambil gelar Premier League dari era akhir Wenger karena Arsenal sendiri sudah memasuki fase penurunan. Dampak terbesar terhadap The Gunners justru terasa pada beberapa musim terakhir ketika mereka kembali menjadi penantang serius.
Di bawah Mikel Arteta, Arsenal membangun skuad dengan keputusan transfer yang relatif tepat, permainan terstruktur, dan dukungan publik yang kembali hidup. Namun mereka berulang kali harus berhadapan dengan Manchester City yang sudah memiliki fondasi dominasi sejak jauh sebelum 2018.
Liverpool Membayar Harga Paling Mahal
Liverpool mungkin menjadi klub yang paling mudah digunakan untuk menggambarkan betapa tingginya standar baru setelah kebangkitan Manchester City. Mereka kehilangan peluang juara pada 2014 dan kemudian berkali-kali harus menghasilkan musim hampir sempurna hanya untuk tetap bersaing.
Pada era Jurgen Klopp, Liverpool bahkan menembus 90 poin dalam tiga musim berbeda, tetapi hanya menghasilkan satu gelar Premier League dari periode tersebut. Dalam sebagian besar sejarah sepak bola Inggris, angka seperti itu hampir selalu cukup untuk menjadi juara.
Ironisnya, ketika Liverpool akhirnya mengakhiri penantian panjang menuju gelar liga, perayaan mereka terjadi di stadion kosong akibat pandemi Covid-19. Itu membuat salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah modern klub berlangsung tanpa momen publik yang selama puluhan tahun dinantikan suporternya.
Liverpool termasuk klub yang pada 2024 telah memberi pemberitahuan mengenai kemungkinan menuntut kompensasi apabila Manchester City dinyatakan bersalah. Namun bahkan kompensasi finansial atau perubahan administratif tidak dapat mengembalikan pengalaman sejarah yang sudah hilang.
Klopp sendiri pernah bercanda soal pesta di Mallorca jika gelar Manchester City dicabut, tetapi kini responsnya jauh lebih dingin. Mantan pelatih Liverpool tersebut mengatakan dirinya tidak membutuhkan pengakuan tambahan sekadar untuk menyebut dirinya juara Inggris lebih banyak.
Pernyataan tersebut tidak menghapus pertanyaan besar mengenai bagaimana sejarah Liverpool mungkin berubah tanpa Manchester City. Apakah Brendan Rodgers bisa membawa Liverpool juara lebih cepat, dan apakah Klopp kemudian tetap menganggap Anfield sebagai proyek paling menarik setelah meninggalkan Borussia Dortmund?
Ada pula pertanyaan mengenai Pep Guardiola yang awalnya pernah masuk dalam pertimbangan Sir Alex Ferguson sebagai calon penerus di Manchester United. Guardiola juga pernah tertarik menghabiskan akhir karier bermain di Arsenal, sehingga jalur kepelatihannya mungkin benar-benar berbeda.
Semua kemungkinan tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh Manchester City terhadap ekosistem Premier League. Klub bukan hanya memenangkan pertandingan dan trofi, tetapi juga mengubah arah transfer pemain, pilihan pelatih, standar poin, dan investasi yang dibutuhkan untuk menjadi juara.
Manchester City Sebelum Abu Dhabi Sebenarnya Tidak Lemah
Menariknya, Manchester City sebelum 2008 bukan klub kecil tanpa sumber daya sama sekali. Dalam Deloitte Football Money League terakhir sebelum akuisisi Abu Dhabi, City tercatat sebagai klub terkaya ke-21 di Eropa berdasarkan pendapatan.
Di antara klub Premier League, hanya Manchester United, Chelsea, Arsenal, Liverpool, Tottenham, dan Newcastle United yang memiliki pendapatan lebih besar. City juga telah memiliki stadion berkapasitas sekitar 48.000 penonton dari warisan Commonwealth Games 2002.
Biaya sewa tahunan stadion tersebut hanya sekitar tiga sampai empat juta pound, memberikan Manchester City fondasi infrastruktural yang cukup sehat. Akademi mereka juga menghasilkan pemain seperti Micah Richards, Daniel Sturridge, dan Stephen Ireland yang mampu menembus tim utama.
Skuad City kala itu juga memiliki pemain-pemain yang tetap dikenang pendukung seperti Geovanni, Elano, Vedran Corluka, dan Benjani. Mereka bukan calon juara, tetapi memiliki cukup fondasi untuk menjadi klub papan atas menengah yang stabil jika dikelola dengan baik.
Tanpa pengambilalihan Abu Dhabi, Manchester City mungkin tetap mampu berkembang menjadi klub yang rutin mengejar kompetisi Eropa seperti West Ham, Leicester City, Newcastle United, atau Aston Villa dalam berbagai periode. Mereka bahkan mungkin bisa menyalip Villa dan Everton melalui pembangunan yang lebih konvensional.
Namun perjalanan seperti itu tentu jauh berbeda dibandingkan delapan gelar Premier League dalam 12 musim dan keberhasilan menjuarai Liga Champions. Kekayaan Abu Dhabi mempercepat transformasi City dari klub papan tengah menjadi kekuatan global dalam waktu relatif singkat.
Noel Gallagher, musisi Oasis sekaligus pendukung Manchester City paling terkenal, pernah memberikan gambaran sederhana mengenai alternatif sejarah tersebut. Menurutnya, tanpa Sheikh Mansour, City mungkin mengalami perjalanan serupa Everton dengan pergantian pemilik, janji besar, kegagalan, dan ketidakpastian.
Banyak pendukung City mungkin tetap memilih sejarah yang benar-benar mereka alami dibandingkan jalur alternatif tersebut. Mereka menyaksikan Sergio Aguero mencetak gol juara, Guardiola membangun tim dominan, dan klub akhirnya mengangkat trofi Liga Champions.
Namun persoalan finansial Manchester City membuat seluruh keberhasilan itu kini kembali diperiksa melalui sudut pandang berbeda. Ketika legitimasi proses pembangunan sebuah kekuatan dipertanyakan, dampaknya tidak berhenti pada klub yang memenangkan trofi tetapi menjalar kepada mereka yang kehilangan kesempatan.
Aston Villa dan Everton mungkin menjadi contoh paling jelas karena mereka berada tepat di ambang kelompok elite ketika Manchester City mulai mengeluarkan kekuatan finansialnya. Momentum mereka kemudian menghilang ketika pasar pemain dan biaya persaingan berubah secara drastis.
Arsenal dan Liverpool menghadapi persoalan berbeda karena status historis mereka tetap terjaga, tetapi volume trofi berpotensi lebih besar tanpa dominasi City. Manchester United juga tetap memiliki fondasi geografis, komersial, dan sejarah yang membuat mereka bertahan sebagai aristokrasi sepak bola Inggris.
Pada akhirnya, pengaruh terbesar Manchester City mungkin bukan delapan gelar Premier League atau angka transfer yang fantastis. Warisan terbesarnya adalah membuat standar untuk menjadi juara berubah dari sekadar tampil hebat menjadi hampir tidak boleh melakukan kesalahan sepanjang musim.
Itulah sebabnya akuisisi Manchester City pada 2008 layak disebut sebagai momen “sliding doors” Premier League. Satu perubahan kepemilikan tidak hanya mengubah nasib satu klub, tetapi juga menutup dan membuka begitu banyak jalan sejarah bagi klub-klub lain.
Jika Manchester City tidak dibeli Abu Dhabi, mereka mungkin tetap berkembang menjadi klub kuat dengan stadion besar, akademi bagus, dan basis pendukung solid. Namun Premier League yang kita kenal hari ini hampir pasti akan memiliki daftar juara, peserta Liga Champions, dan peta kekuatan yang sangat berbeda.
Dan bagi Aston Villa, Everton, Liverpool, maupun Arsenal, pertanyaan itu mungkin akan terus hidup jauh lebih lama daripada setiap keputusan disipliner. Manchester City telah mengubah sepak bola Inggris sedemikian dalam sehingga tidak ada putusan pengadilan olahraga yang mampu mengembalikan sejarah ke jalur sebelumnya.


