Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Krisis Kylian Mbappe di China: Satu Candaan Soal Mao Zedong Berujung Boikot, Sponsor Hengkang, dan La Liga Dihentikan

Krisis Kylian Mbappe di China: Satu Candaan Soal Mao Zedong Berujung Boikot, Sponsor Hengkang, dan La Liga Dihentikan

  • Oktober 28, 2026

Krisis Kylian Mbappe di China memperlihatkan bagaimana sebuah candaan bisa berubah menjadi persoalan internasional yang melibatkan sejarah politik, kepentingan bisnis bernilai jutaan dolar, hingga hubungan sepak bola Eropa dengan Beijing.

Penyerang Real Madrid itu menghadapi gelombang kecaman setelah komentarnya mengenai Mao Zedong beredar di media sosial, membuat sejumlah sponsor memutus kerja sama dan televisi pemerintah China menghentikan sementara siaran La Liga.

Persoalan tersebut menjadi semakin menarik karena Mbappe sebenarnya sedang membicarakan sebuah gambar lelucon tentang dirinya sendiri, bukan menyampaikan pernyataan politik resmi atau secara khusus membahas sejarah pemerintahan China.

Namun, penyebutan Mao sebagai diktator dianggap menyinggung sebagian masyarakat China yang memandang tokoh tersebut sebagai pendiri negara modern, meskipun kepemimpinannya juga meninggalkan catatan sejarah yang sangat kontroversial.

Kontroversi ini akhirnya bukan sekadar persoalan apakah seorang pesepak bola boleh bercanda mengenai tokoh sejarah, tetapi juga menyangkut seberapa besar pengaruh politik dan nasionalisme terhadap industri olahraga global.

Bagi Mbappe, masalah tersebut datang pada saat kurang menguntungkan karena ia baru saja gagal memenangkan Ballon d’Or 2026, sebelum menghadapi ancaman kehilangan pendapatan komersial dari salah satu pasar terbesar dunia.

Krisis Kylian Mbappe di China: Mengapa Candaan Sederhana Menjadi Masalah Besar?

Awal persoalan muncul ketika potongan video dari program berbahasa Prancis The Bridge beredar luas, memperlihatkan Mbappe sedang membahas salah satu gambar lucu tentang dirinya yang pernah ditemukan di internet.

Gambar tersebut menampilkan wajah Mbappe yang ditempelkan pada tubuh Mao Zedong, pemimpin revolusi komunis yang mendirikan Republik Rakyat China pada 1949 dan memerintah hingga kematiannya pada 1976.

Ketika menjelaskan gambar itu, Mbappe menyebut sosok yang digunakan dalam gambar sebagai seseorang yang menurut perkiraannya merupakan diktator China, tanpa memberikan penjelasan lebih jauh mengenai identitas atau sejarah tokoh tersebut.

Dalam percakapan santai, komentar semacam itu mungkin dianggap sebagai lelucon biasa, tetapi penyebutan diktator memiliki makna politik yang jauh lebih sensitif ketika dikaitkan dengan tokoh pendiri Republik Rakyat China.

Untuk memahami asal-usul candaan tersebut, perhatian perlu kembali pada masa Mbappe memperkuat Paris Saint-Germain, ketika pengaruhnya terhadap klub menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar sepak bola Eropa.

Setelah memperpanjang kontrak bersama PSG pada 2022, Mbappe beberapa kali digambarkan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap keputusan klub, meskipun anggapan bahwa dirinya mengendalikan manajemen tidak terbukti sebagai fakta.

Situasi itulah yang kemudian melahirkan berbagai gambar sindiran di internet, termasuk wajah Mbappe yang ditempelkan pada tubuh pemimpin politik atau tokoh militer untuk menggambarkan kekuasaannya secara berlebihan.

Salah satu gambar bahkan menghubungkan Mbappe dengan Mobutu Sese Seko, mantan pemimpin Zaire yang memerintah secara otoriter, sehingga julukan diktator sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari lelucon tentang sang pemain.

Ketika gambar serupa menggunakan tubuh Mao Zedong, candaan yang sebelumnya berkaitan dengan sepak bola berubah menjadi persoalan berbeda karena menyentuh simbol sejarah yang masih dihormati banyak masyarakat China.

Artinya, masalah utama bukan semata-mata gambar yang beredar, melainkan perbedaan cara memahami candaan antara masyarakat Eropa dan China, terutama ketika sebuah istilah dianggap merendahkan tokoh nasional.

Menurut laporan The Guardian yang ditulis Rebecca Bailey pada Rabu (28/10/2026), kontroversi tersebut memperlihatkan betapa kuatnya sensitivitas terhadap Mao, bahkan ketika sebagian media China tidak menjelaskan secara terbuka ucapan Mbappe.

Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan kelemahan komunikasi figur publik internasional karena sebuah komentar yang dianggap ringan dalam satu lingkungan budaya dapat mempunyai dampak serius ketika diterima masyarakat berbeda.

Mengapa Mao Zedong Begitu Dihormati, Padahal Sejarahnya Kontroversial?

Pertanyaan penting dalam krisis Kylian Mbappe di China adalah mengapa komentar tentang Mao Zedong bisa memicu kemarahan besar, padahal sebagian sejarawan mengaitkan pemerintahannya dengan berbagai tragedi kemanusiaan.

Jawabannya berkaitan dengan posisi Mao dalam sejarah China, karena bagi banyak masyarakat negara tersebut, dirinya bukan hanya mantan pemimpin politik, tetapi juga simbol perjuangan dan berdirinya negara modern.

Sebelum Republik Rakyat China berdiri pada 1949, negara tersebut mengalami perang saudara, invasi Jepang, ketidakstabilan politik, dan berbagai konflik yang mengakibatkan penderitaan panjang bagi penduduknya selama beberapa dekade.

Kemenangan kelompok komunis yang dipimpin Mao kemudian menjadi titik balik sejarah, sehingga pemerintah China menempatkannya sebagai tokoh penting yang berhasil menyatukan kekuasaan dan mengakhiri periode pergolakan sebelumnya.

Dari sudut pandang tersebut, menghina Mao dapat dipahami oleh sebagian masyarakat sebagai tindakan yang tidak menghormati perjuangan pendirian negara, bukan sekadar kritik terhadap seorang politikus yang telah meninggal.

Namun, gambaran mengenai Mao sebenarnya jauh lebih rumit karena kebijakan pemerintahannya juga menyebabkan penderitaan besar, terutama ketika negara menjalankan program perubahan ekonomi dan sosial secara sangat cepat.

Salah satu kebijakan paling kontroversial adalah Lompatan Jauh ke Depan atau Great Leap Forward, program yang dimulai pada 1958 untuk mempercepat industrialisasi sekaligus meningkatkan produksi pertanian melalui sistem kolektif.

Pemerintah saat itu mendorong perubahan besar dalam kehidupan pedesaan, tetapi pelaksanaan kebijakan yang buruk, laporan produksi tidak realistis, serta pengambilan hasil panen berlebihan memperparah kekurangan pangan.

Akibatnya, China mengalami kelaparan besar pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, dengan perkiraan jumlah korban meninggal mencapai puluhan juta orang menurut sejumlah penelitian sejarah.

Angka sekitar 30 juta kematian sering digunakan untuk menggambarkan besarnya bencana tersebut, meskipun para peneliti masih memiliki perbedaan pandangan mengenai jumlah korban dan penyebab langsungnya.

Kontroversi lain muncul melalui Revolusi Kebudayaan yang berlangsung sejak 1966 hingga 1976, ketika kampanye politik untuk mempertahankan ideologi revolusioner menimbulkan kekerasan, persekusi, dan kekacauan dalam berbagai lembaga negara.

Banyak pejabat, guru, akademisi, serta masyarakat biasa menjadi sasaran tuduhan politik, sementara kegiatan pendidikan dan kehidupan sosial terganggu akibat pertentangan ideologi yang meluas ke berbagai wilayah.

Menariknya, Partai Komunis China sendiri mengakui kesalahan besar pada periode tersebut melalui resolusi resmi tahun 1981, meskipun tetap mempertahankan penilaian bahwa Mao memiliki jasa penting dalam sejarah negara.

Di sinilah muncul dua pandangan yang berbeda mengenai Mao Zedong, yakni sebagai pendiri negara yang berjasa sekaligus pemimpin yang kebijakannya berkontribusi terhadap tragedi kemanusiaan dalam skala besar.

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa penggunaan istilah diktator dapat diterima dalam sebagian pembahasan sejarah internasional, tetapi tetap menimbulkan penolakan kuat ketika diucapkan secara ringan oleh seorang selebritas asing.

Profesor kajian China dari Adelaide University, Mobo Gao, menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat China tidak memandang Mao dengan penilaian senegatif yang sering berkembang dalam wacana sejarah Barat.

Menurut Gao, perdebatan antara kelompok yang mendukung dan menentang warisan Mao masih berlangsung di China, bahkan semakin terasa ketika kondisi ekonomi negara tersebut mengalami perlambatan.

Sebagian masyarakat, termasuk kelompok muda, juga memandang masa Mao sebagai periode yang menjanjikan kesetaraan sosial, meskipun gambaran ideal tersebut tidak selalu mencerminkan kehidupan nyata masyarakat pada waktu itu.

Kerinduan terhadap gagasan kesetaraan menjadi relevan ketika masyarakat menghadapi persaingan pekerjaan, kesenjangan pendapatan, dan tekanan ekonomi, sehingga citra Mao kembali digunakan dalam pembicaraan mengenai keadilan sosial.

Dengan demikian, penghormatan terhadap Mao tidak selalu berarti seluruh masyarakat China menyetujui semua kebijakannya, melainkan mencerminkan hubungan yang rumit antara sejarah, identitas nasional, dan harapan terhadap kehidupan sekarang.

Sponsor Langsung Pergi, Mengapa Perusahaan China Bereaksi Begitu Cepat?

Krisis Kylian Mbappe di China berkembang menjadi ancaman ekonomi ketika perusahaan minuman Dongpeng Beverage, produsen susu Mengniu, dan Shanghai Milkground Food Tech mengumumkan penghentian kerja sama dengan penyerang Real Madrid tersebut.

Keputusan itu diambil dalam waktu sekitar 24 jam setelah video kontroversial menyebar, memperlihatkan betapa cepatnya perusahaan berusaha menjauhkan merek mereka dari persoalan yang dianggap sensitif secara politik.

Bagi masyarakat awam, langkah tersebut mungkin terlihat berlebihan karena seorang pemain sepak bola hanya mengomentari gambar internet, tetapi perusahaan memiliki pertimbangan yang berbeda ketika reputasi bisnis dipertaruhkan.

Perusahaan yang menjual produk kepada jutaan konsumen harus mempertimbangkan kemungkinan munculnya gerakan boikot, terutama apabila masyarakat menilai merek tersebut tetap mendukung figur yang dianggap tidak menghormati sejarah China.

Dalam situasi seperti itu, mempertahankan kerja sama dengan Mbappe dapat dipandang sebagai risiko yang lebih besar daripada kehilangan manfaat promosi, meskipun sang pemain memiliki popularitas internasional sangat tinggi.

Masalahnya, perusahaan juga menghadapi tekanan persaingan karena pesaing mereka dapat menggunakan kontroversi tersebut untuk menampilkan citra sebagai merek yang lebih menghormati nilai nasional dan kepentingan masyarakat.

Kondisi itu menjelaskan mengapa sejumlah perusahaan mengambil keputusan hampir bersamaan, bahkan sebelum diketahui secara pasti apakah kemarahan di media sosial benar-benar mewakili pendapat sebagian besar penduduk China.

Mark Dreyer, penulis buku Sporting Superpower yang membahas ambisi China dalam industri olahraga, menilai perusahaan cenderung berlomba mengambil jarak ketika sebuah figur dianggap telah melewati batas sensitivitas politik.

Menurut Dreyer, nilai kontrak komersial Mbappe secara keseluruhan berpotensi mencapai 30 juta dolar AS per tahun, sebuah perkiraan yang menunjukkan besarnya kepentingan finansial di balik hubungan antara pemain dan sponsor.

Angka tersebut tidak berarti Mbappe telah kehilangan 30 juta dolar AS akibat kontroversi, melainkan menggambarkan besarnya potensi pendapatan iklan yang bisa terancam ketika reputasinya memburuk di pasar China.

Kerugian sebenarnya bergantung pada nilai masing-masing kontrak, ketentuan penghentian kerja sama, serta kemungkinan sponsor kembali menggunakan Mbappe setelah situasi mereda dan hubungan dengan pasar China membaik.

Mengapa Real Madrid dan La Liga Ikut Menanggung Akibatnya?

Persoalan Mbappe menjadi semakin besar ketika China Media Group, lembaga yang membawahi televisi pemerintah CCTV, memutuskan menghentikan sementara penayangan pertandingan La Liga menyusul kontroversi mengenai Mao Zedong.

Keputusan tersebut membawa masalah ke tingkat berbeda karena yang terkena dampak bukan hanya satu pemain, tetapi juga kompetisi sepak bola Spanyol yang memiliki kepentingan mempertahankan penonton internasional.

Siaran pertandingan merupakan salah satu cara liga menjangkau penggemar di luar negeri, sekaligus membuka kesempatan bagi klub dan sponsor untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen baru.

Ketika penayangan dihentikan, peluang promosi dan keterlibatan penonton ikut terganggu, meskipun besarnya dampak keuangan tidak bisa langsung dihitung tanpa mengetahui nilai kontrak penyiaran dan durasi penghentian tersebut.

Bagi Real Madrid, persoalan ini menyentuh kepentingan yang lebih luas karena klub memiliki pendukung di berbagai negara, termasuk China, yang menjadi bagian penting dari pasar sepak bola internasional.

Popularitas klub tidak hanya menghasilkan pemasukan dari pertandingan, tetapi juga penjualan merchandise, kerja sama sponsor, aktivitas digital, serta berbagai kesepakatan komersial yang mengandalkan kedekatan dengan penggemar.

Karena itu, Real Madrid akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat China pada Rabu, 28 Oktober 2026, dengan menegaskan penghormatan terhadap sejarah, kebudayaan, dan masyarakat negara tersebut.

La Liga juga menyatakan penyesalan atas dampak komentar Mbappe, sementara presidennya, Javier Tebas, bertemu dengan duta besar China untuk Spanyol sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kontroversi seorang pemain dapat berkembang menjadi masalah bagi organisasi olahraga ketika hubungan dengan mitra internasional dianggap berada dalam posisi yang terancam.

Dalam sepak bola modern, pemain bintang memang menjadi aset penting bagi klub, tetapi perilaku mereka di luar lapangan juga dapat memengaruhi hubungan bisnis yang selama ini dibangun melalui investasi panjang.

Kemarahan Publik dan Media China Menyisakan Pertanyaan

Ada sisi lain yang membuat krisis Kylian Mbappe di China menarik untuk dianalisis, yakni banyaknya kecaman terhadap sang pemain meskipun sebagian pengguna internet tidak mengetahui secara lengkap komentar yang dipersoalkan.

Platform sepak bola Dongqiudi termasuk yang menyampaikan kritik terhadap Mbappe, tetapi memilih tidak menerjemahkan pernyataannya karena isi komentar tersebut dinilai menyinggung China dan masyarakatnya.

Akibatnya, perdebatan berkembang dalam situasi ketika sebagian orang mengetahui bahwa Mbappe dianggap menghina tokoh nasional, tetapi belum tentu memahami gambar yang dibicarakan maupun konteks candaan awalnya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kemarahan di media sosial dapat berkembang lebih cepat daripada penyebaran informasi lengkap, terutama ketika sebuah persoalan dikaitkan dengan kebanggaan nasional.

Pada Rabu pagi, tagar mengenai permintaan maaf Mbappe bahkan telah mengumpulkan lebih dari 600 juta penayangan, menunjukkan perhatian publik yang sangat besar terhadap kontroversi tersebut.

Namun, jumlah penayangan tidak sama dengan jumlah orang yang mengecam Mbappe karena satu pengguna dapat melihat konten berkali-kali, sementara sebagian lainnya mungkin hanya mengikuti perkembangan tanpa menyatakan pendapat.

Editor buletin Eye on Digital China, Manya Koetse, menyoroti banyaknya pengguna internet yang masih tidak memahami alasan utama munculnya seruan boikot karena komentar lengkap sang pemain sulit ditemukan.

Sementara itu, Profesor Jennifer Pan dari Stanford University mengingatkan bahwa percakapan media sosial China tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk mengetahui pandangan masyarakat secara keseluruhan.

Pan menjelaskan bahwa keterbatasan survei independen, moderasi konten, dan karakter pengguna platform digital membuat gambaran mengenai pendapat masyarakat menjadi tidak lengkap, terutama pada persoalan politik sensitif.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah kemarahan masyarakat mendorong perusahaan memutus kontrak atau justru keputusan perusahaan dan lembaga penyiaran ikut memperbesar sentimen negatif terhadap Mbappe.

Kedua kemungkinan tersebut dapat terjadi bersamaan, tetapi belum tersedia bukti yang cukup untuk memastikan urutan pengaruhnya, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat China mempunyai sikap seragam.

Kasus NBA Menjadi Peringatan bagi Mbappe dan La Liga

Pengalaman olahraga internasional memperlihatkan bahwa ketegangan dengan China bukan persoalan baru karena sejumlah organisasi sebelumnya menghadapi dampak komersial setelah terlibat perdebatan mengenai isu politik sensitif.

Pada 2019, NBA mengalami kontroversi ketika Daryl Morey, yang ketika itu menjabat manajer umum Houston Rockets, menyampaikan dukungan terhadap demonstrasi prodemokrasi Hong Kong melalui media sosial.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras di China dan mengganggu hubungan komersial NBA, termasuk penayangan pertandingan di televisi pemerintah serta sejumlah aktivitas pemasaran yang melibatkan perusahaan lokal.

Pertandingan pramusim NBA kemudian tidak digelar di China selama enam tahun sebelum kembali melalui Makau pada 2025, memperlihatkan bahwa pemulihan hubungan dapat membutuhkan waktu cukup panjang.

Persoalan serupa pernah dialami sejumlah perusahaan fesyen internasional yang menghadapi kritik mengenai Taiwan, Hong Kong, Tibet, dan Xinjiang, meskipun latar belakang serta bentuk kontroversinya berbeda.

Pengalaman tersebut menjelaskan mengapa Mbappe, Real Madrid, dan La Liga memilih memberikan permintaan maaf dengan cepat, daripada membiarkan perdebatan berkembang hingga mengganggu lebih banyak hubungan komersial.

Namun, permintaan maaf bukan berarti semua pembatasan otomatis dicabut karena perusahaan dan lembaga penyiaran masih dapat mempertimbangkan langkah berikutnya berdasarkan tanggapan masyarakat serta kepentingan masing-masing.

Bagi La Liga, pelajaran terpenting dari pengalaman NBA adalah bahwa reputasi olahraga internasional dapat dipengaruhi persoalan politik yang sama sekali tidak berkaitan langsung dengan jalannya pertandingan.

Apa yang Menentukan Masa Depan Mbappe di China?

Mbappe telah menyampaikan permintaan maaf pada Selasa, 27 Oktober 2026, melalui pernyataan dalam bahasa Prancis, Inggris, dan Mandarin setelah memahami bahwa komentarnya telah menyinggung sebagian masyarakat China.

Ia mengakui bahwa pernyataannya tidak tepat dan menyampaikan penyesalan kepada pihak yang merasa tersinggung, sebuah langkah yang dimaksudkan untuk meredakan ketegangan sekaligus memulihkan hubungan dengan penggemarnya.

Pemerintah China memberikan tanggapan pada Rabu ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pihaknya memperhatikan secara serius permintaan maaf yang disampaikan sang pemain.

Pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai terbukanya kesempatan untuk memperbaiki hubungan, tetapi bukan jaminan bahwa seluruh sponsor kembali bekerja sama atau siaran La Liga segera dipulihkan.

China Media Group juga mengisyaratkan akan memperhatikan tindakan Mbappe setelah permintaan maaf, sehingga proses pemulihan reputasi tidak hanya bergantung pada pernyataan tertulis yang telah disampaikan.

Bagi perusahaan, keputusan kembali menggunakan Mbappe sebagai duta merek nantinya kemungkinan akan mempertimbangkan perubahan sentimen konsumen, risiko reputasi, dan manfaat komersial yang dapat diperoleh.

Sementara itu, Real Madrid mempunyai kepentingan memastikan persoalan tersebut tidak berkembang menjadi hambatan berkepanjangan dalam membangun hubungan dengan penggemar dan mitra bisnis di kawasan Asia.

Krisis Kylian Mbappe di China pada akhirnya memperlihatkan bagaimana seorang pesepak bola modern bukan hanya atlet yang dinilai berdasarkan penampilan, tetapi juga figur global yang tindakannya dapat memengaruhi industri.

Perkembangan ini sekaligus menunjukkan bahwa popularitas internasional membawa tanggung jawab komunikasi yang semakin besar, terutama ketika seorang pemain memiliki penggemar dari masyarakat dengan sejarah, budaya, dan sensitivitas berbeda.

Namun, persoalan tersebut juga memperlihatkan pentingnya memberikan konteks lengkap sebelum sebuah komentar dijadikan dasar penilaian publik, karena potongan video dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda dari percakapan sebenarnya.

Perdebatan mengenai Mao Zedong sendiri tidak akan selesai hanya dengan permintaan maaf seorang pemain, mengingat tokoh tersebut masih menjadi bagian penting dari perbedaan pandangan mengenai sejarah China modern.

Bagi Mbappe, tantangan terbesarnya sekarang adalah membangun kembali kepercayaan tanpa memperpanjang kontroversi, sementara Real Madrid dan La Liga harus menjaga hubungan dengan pasar yang memiliki kepentingan komersial besar.

Pada akhirnya, satu candaan mengenai gambar internet telah berkembang menjadi contoh nyata betapa eratnya hubungan antara sepak bola, sejarah politik, nasionalisme, dan bisnis dalam dunia olahraga modern.

Catatan SEO: Kata kunci fokus telah ditempatkan pada Meta Title, URL, H1, dan sejumlah H2 serta disebarkan secara kontekstual dalam naskah. Skor Rank Math 90 dan densitas tepat 2 persen masih perlu diperiksa melalui plugin SEO setelah artikel dimasukkan ke situs, sedangkan hasil pemeriksaan plagiarisme memerlukan perangkat pengecekan tersendiri.

Krisis Kylian Mbappe di China: Satu Candaan Soal Mao Zedong Berujung Boikot, Sponsor Hengkang, dan La Liga Dihentikan

28 Okt 2026

Dulu Menyamar Jadi Anak Laki-Laki demi Bermain Bola, Ster Habibzadeh Kini Jadi Pelatih di Liga Champions

28 Okt 2026

Porto Kepincut Phillipe Gabriel, Kiper Raksasa Brasil yang Jago Penalti dan Bisa Jadi Bintang Baru Eropa

28 Okt 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.