Julián Quiñones kini berada pada titik yang dulu sulit dibayangkan ketika ia meninggalkan Kolombia sebagai remaja dan membangun karier di Meksiko. Namanya masuk dalam daftar 30 nominasi Ballon d’Or 2026 setelah tahun yang mempertemukan produktivitas klub, panggung Piala Dunia, dan keputusan identitas.
Ballondor.com menempatkan satu keputusan sebagai titik balik terbesar perjalanan Julián Quiñones, yakni memilih memperkuat Meksiko ketika peluang bersama Kolombia masih terbuka. Pilihan itu penting bukan karena otomatis mengubah kualitasnya, melainkan karena membuka jalur internasional yang akhirnya memperbesar panggung bagi performanya.
Kisah tersebut menjadi lebih menarik karena Julián Quiñones tidak membangun reputasi melalui jalur instan menuju klub elite Eropa. Ia meniti karier dari akademi Tigres UANL, masa peminjaman, persaingan Liga MX, kemudian menemukan status bintang melalui Atlas dan Club América.
Lahir di Magüí Payán, Kolombia, Julián Quiñones datang ke Meksiko pada usia 18 tahun untuk bergabung dengan struktur muda Tigres UANL. Ia kemudian mengumpulkan pengalaman profesional bersama Venados FC dan Lobos BUAP, dua periode yang membantu membentuk ketajaman serta daya tahannya.
Kembali ke Tigres, Julián Quiñones berada di tengah skuad yang terbiasa mengejar gelar domestik dan kontinental, tetapi menit bermainnya tidak selalu stabil. Situasi tersebut justru membentuk bagian penting kariernya karena ia harus mencari ruang lain untuk menjadi pusat permainan.
Perubahan terbesar pada level klub datang bersama Atlas, ketika Julián Quiñones berkembang dari penyerang berbahaya menjadi figur utama dalam tim juara. Ia membantu Atlas meraih gelar beruntun Apertura 2021 dan Clausura 2022, pencapaian yang mengangkat statusnya di Liga MX.
Keberhasilan itu membawanya ke Club América pada 2023 dan memperlihatkan bahwa performa bersama Atlas bukan ledakan sesaat. Liga MX mencatat Julián Quiñones sebagai pencetak gol terbanyak kompetisi sepanjang tahun kalender 2023 dengan 23 gol dari periode bersama Atlas dan América.
Di América, Julián Quiñones kembali berada di jantung tim yang memenangkan Apertura 2023 dan Clausura 2024 secara beruntun. Klub juga mengangkat Campeón de Campeones, sehingga ia meninggalkan Meksiko setelah membuktikan kemampuan meraih trofi dalam dua lingkungan berbeda.
Keputusan Julián Quiñones Memilih Meksiko
Di tengah perkembangan karier klub tersebut, muncul keputusan yang jauh lebih personal daripada perpindahan antartim, yakni menentukan negara yang ingin ia bela. Julián Quiñones lahir di Kolombia, tetapi kehidupan profesional, keluarga, dan identitas dewasanya tumbuh selama bertahun-tahun di Meksiko.
Pada 2023, Direktur Tim Nasional Meksiko Duilio Davino mengatakan Kolombia telah menghubungi Quiñones, sementara sang pemain menyampaikan keinginan membela Meksiko. Proses naturalisasi dan pergantian asosiasi kemudian diselesaikan sebelum ia menjalani debut bersama El Tri pada November tahun yang sama.
Laporan tersebut bahkan menulis bahwa Julián Quiñones tidak membuka surat dari Federasi Sepak Bola Kolombia karena keputusannya sudah dibuat. Detail itu memperlihatkan bahwa pilihannya bukan manuver sementara untuk mencari menit internasional, melainkan keputusan identitas yang telah dipertimbangkan serius.
Julián Quiñones sendiri menjelaskan bahwa ia membangun karier, keluarga, dan kehidupan di Meksiko sehingga muncul ikatan yang sulit dipisahkan. Pernyataan tersebut penting karena menjelaskan alasan keputusan itu dari sudut pandang pemain, bukan sekadar interpretasi mengenai peluang olahraga yang tersedia.
Secara analitis, memilih Meksiko memang tidak serta-merta menjadikan Julián Quiñones pemain lebih tajam atau lebih komplet. Namun keputusan tersebut menempatkannya dalam proyek tim nasional yang memberinya kesempatan tampil di kompetisi besar, termasuk Piala Dunia 2026 yang sebagian digelar di Meksiko.
Perjalanan internasionalnya juga tidak langsung berjalan tanpa hambatan karena Quiñones sempat harus menyesuaikan diri dengan struktur dan persaingan lini depan El Tri. Meksiko memiliki Raúl Jiménez, Santiago Giménez, dan beberapa opsi lain, sehingga reputasi klub tidak otomatis menjamin posisi utama.
Meski demikian, Julián Quiñones menjadi bagian generasi yang mengakhiri penantian Meksiko di Concacaf Nations League pada 2025. Ia juga masuk skuad ketika Meksiko kemudian menjuarai Gold Cup 2025 setelah mengalahkan Amerika Serikat 2-1 pada pertandingan final.
Dua gelar regional tersebut belum menjadikan Quiñones pusat sepak bola dunia, tetapi memberikan fondasi penting sebelum 2026. Dari sana, performa klubnya melonjak pada saat yang tepat dan membuat keputusan memilih Meksiko memperoleh konsekuensi olahraga yang jauh lebih besar.
Julián Quiñones Meledak Bersama Al-Qadsiah
Kepindahan ke Al-Qadsiah membawa Julián Quiñones keluar dari zona yang telah membuat namanya besar di Liga MX. Ia harus membuktikan produktivitas dalam liga yang dihuni penyerang terkenal seperti Cristiano Ronaldo, Ivan Toney, João Félix, serta sederet pemain internasional lainnya.
Jawabannya muncul pada musim 2025/2026 ketika Julián Quiñones mencetak 33 gol liga dan merebut Golden Boot Saudi Pro League. Hat-trick pada pertandingan terakhir membuatnya melewati Ivan Toney yang finis dengan 32 gol, sementara Cristiano Ronaldo mengakhiri musim dengan 28 gol.
Saudi Pro League juga mencatat Julián Quiñones meraih 14 penghargaan pemain terbaik pertandingan, terbanyak di liga sepanjang musim tersebut. Ia menjadi satu dari hanya lima pemain dalam sejarah kompetisi yang mampu menghasilkan empat hat-trick dalam satu musim.
Angka itu menunjukkan bahwa musimnya bukan sekadar hasil beberapa pertandingan besar yang menggelembungkan statistik. Produktivitas Quiñones tersebar cukup konsisten untuk menjadikannya pencetak gol utama liga sekaligus salah satu pemain yang paling sering menentukan hasil pertandingan Al-Qadsiah.
Dalam seluruh kompetisi pada musim tersebut, catatan musimnya menunjukkan Julián Quiñones menghasilkan 37 gol dan empat assist. Kontribusi langsung terhadap 41 gol menjelaskan mengapa namanya mulai dibicarakan di luar lingkup Liga MX dan sepak bola Saudi.
Namun statistik klub saja belum sepenuhnya menjelaskan nominasi Ballon d’Or 2026 karena kompetisi individual itu juga mempertimbangkan dampak di panggung terbesar. Piala Dunia kemudian memberikan kesempatan kepada Quiñones untuk membuktikan bahwa produktivitasnya dapat diterjemahkan ke level internasional.
Piala Dunia Mengubah Skala Nama Julián Quiñones
Pada Piala Dunia 2026, Julián Quiñones mencetak empat gol dan satu assist dalam lima pertandingan bersama Meksiko. FIFA menempatkannya di antara pemain dengan lima kontribusi gol pada turnamen, sebuah angka yang membuat performanya sulit dipandang sebagai cerita lokal semata.
Quiñones juga mencetak gol pertama Meksiko pada turnamen sekaligus membuka catatan golnya di Piala Dunia yang digelar di kandang sendiri. Meksiko akhirnya menembus fase gugur, sementara sang penyerang terus menjadi salah satu sumber ancaman utama dalam struktur Javier Aguirre.
Perjalanannya berakhir ketika Meksiko kalah 2-3 dari Inggris pada fase gugur, tetapi Julián Quiñones kembali mencetak gol dalam pertandingan tersebut. Gol itu memperlihatkan bahwa kontribusinya tidak hanya muncul ketika menghadapi lawan yang lebih lemah atau saat permainan berjalan nyaman.
Di sinilah keputusan membela Meksiko mendapatkan makna karier yang paling konkret, karena Piala Dunia 2026 menyediakan panggung global yang mungkin berbeda jika ia memilih jalur internasional lain. Keputusan identitas bertemu dengan momentum olahraga, lalu performa individu memastikan kesempatan tersebut tidak terbuang.
Tetap penting membedakan sebab dan akibat karena pilihan kewarganegaraan bukan alasan utama Julián Quiñones mencetak 33 gol di Saudi Pro League. Perkembangannya lahir dari pengalaman panjang, kestabilan peran, kemampuan menyerang ruang, kekuatan duel, serta penyelesaian yang semakin matang.
Pilihan membela Meksiko lebih tepat dilihat sebagai pengganda terhadap karier yang memang sedang berkembang, bukan pencipta kualitas dari nol. Ia memperoleh kesinambungan emosional, panggung internasional, dan kesempatan tampil di Piala Dunia kandang, sementara performa klub menyediakan dasar untuk memanfaatkan semuanya.
Julián Quiñones dari Pilihan Identitas Menuju Ballon d’Or
Nominasi Ballon d’Or 2026 akhirnya menyatukan seluruh fase tersebut dalam satu musim pengakuan bagi Julián Quiñones. Daftar resmi 2026 menempatkannya sebagai salah satu 30 kandidat dan mencatat ia menjadi pemain Meksiko kedua yang pernah mendapatkan nominasi tersebut.
Pengakuan itu juga menantang anggapan bahwa jalur menuju Ballon d’Or selalu harus melalui klub terbesar di Eropa. Quiñones menciptakan kasus berbeda dengan menggabungkan Golden Boot di Arab Saudi, performa Piala Dunia, dan rekam jejak juara yang panjang di Meksiko.
Setelah nominasi diumumkan, Julián Quiñones mengatakan, “Saya sangat bangga telah mencapai ini,” sambil menegaskan kerja keras di balik momen tersebut. Kalimat itu terasa relevan karena perjalanan kariernya memang dibangun melalui beberapa fase yang tidak selalu menjanjikan posisi utama atau sorotan global.
Kini keputusan 2023 memilih Meksiko terlihat seperti persimpangan yang mengubah arah, tetapi bukan satu-satunya alasan Julián Quiñones mencapai level tersebut. Tanpa ledakan 33 gol bersama Al-Qadsiah dan empat gol Piala Dunia, keputusan identitas itu mungkin hanya menjadi cerita personal.
Sebaliknya, tanpa keberanian mengambil keputusan yang sesuai dengan kehidupan yang telah dibangunnya, jalur internasional Quiñones juga mungkin berkembang sangat berbeda. Kariernya menunjukkan bagaimana pilihan personal, kesempatan kompetitif, dan performa dapat bertemu pada waktu yang tepat untuk menghasilkan lompatan besar.
Itulah sebabnya kisah Julián Quiñones lebih dalam daripada narasi pemain kelahiran Kolombia yang kemudian membela Meksiko. Titik balik sebenarnya terjadi ketika ia memilih identitas sepak bolanya, lalu mengubah keputusan itu menjadi legitimasi melalui gol, trofi, Piala Dunia, dan nominasi Ballon d’Or.


