Ketika Timnas Inggris memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026, hampir seluruh perhatian publik tertuju kepada satu nama yang sudah lebih dari satu dekade menjadi wajah sepak bola Inggris. Nama itu adalah Harry Kane, sang kapten sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Three Lions.
Pada usia 32 tahun, Kane datang ke Amerika Utara dengan status yang tidak berubah. Ia tetap menjadi ujung tombak utama, pemimpin ruang ganti, dan pemain yang diharapkan mampu membawa Inggris mengakhiri penantian panjang gelar juara dunia yang sudah berlangsung sejak 1966.
Namun di balik ekspektasi besar tersebut, terdapat satu pertanyaan yang mulai membuat Federasi Sepak Bola Inggris (FA) dan para penggemarnya khawatir. Siapa yang akan menggantikan Kane ketika sang kapten memutuskan mengakhiri karier internasionalnya?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat dekade, Inggris berpotensi memasuki era tanpa penyerang kelas dunia yang secara otomatis mengunci posisi nomor sembilan mereka.
Harry Kane Bab Terakhir dari Generasi Penyerang Elite
Sejak pertengahan dekade 1980-an, Inggris nyaris tidak pernah mengalami kekurangan striker berkualitas dunia. Generasi demi generasi hadir secara berkesinambungan dan menjaga tradisi panjang yang membuat posisi penyerang tengah selalu menjadi kekuatan utama sepak bola Inggris.
Perjalanan itu dimulai dari Gary Lineker yang menjadi ikon Piala Dunia 1986. Setelah Lineker, Inggris tidak perlu menunggu lama karena muncul Alan Shearer yang kemudian berkembang menjadi salah satu penyerang paling mematikan dalam sejarah Liga Inggris.
Ketika era Shearer mulai berakhir, Michael Owen datang sebagai fenomena baru. Gol sensasionalnya ke gawang Argentina pada Piala Dunia 1998 membuat dunia melihat bahwa Inggris kembali menemukan penyerang istimewa.
Setelah Owen, tongkat estafet berpindah kepada Wayne Rooney yang menjadi simbol generasi emas Inggris pada awal abad ke-21. Dan ketika Rooney mendekati akhir kariernya, Harry Kane muncul dari Tottenham Hotspur untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup.
Dalam rentang lebih dari 42 tahun, Inggris selalu memiliki satu striker elite yang menjadi pusat permainan tim nasional. Situasi itu membuat para pelatih Inggris tidak pernah benar-benar dipusingkan oleh persoalan siapa yang harus memimpin lini depan.
Deretan Legenda yang Membentuk Tradisi Nomor Sembilan Inggris
Jika digabungkan, Lineker, Shearer, Owen, Rooney, dan Kane menghasilkan lebih dari 249 gol internasional untuk Inggris. Mereka juga memenangkan berbagai penghargaan individu, termasuk Sepatu Emas Piala Dunia, Golden Boot liga domestik, hingga penghargaan pemain terbaik musim.
Di belakang mereka juga terdapat deretan striker berkualitas yang mungkin tidak selalu menjadi pilihan utama, tetapi tetap memiliki reputasi besar. Nama-nama seperti Teddy Sheringham, Ian Wright, Les Ferdinand, Robbie Fowler, Jermain Defoe, Peter Crouch, hingga Emile Heskey menjadi bukti kedalaman luar biasa yang pernah dimiliki Inggris.
Kondisi tersebut membuat banyak penggemar Inggris tumbuh dengan keyakinan bahwa selalu akan ada striker hebat berikutnya. Ketika satu legenda pensiun, legenda baru akan muncul menggantikannya.
Namun untuk pertama kalinya sejak era modern sepak bola Inggris dimulai, keyakinan itu mulai dipertanyakan. Piala Dunia 2026 bisa menjadi penanda berakhirnya salah satu jalur produksi penyerang terbaik yang pernah dimiliki sebuah negara.
Alarm Mulai Berbunyi Ketika Harry Kane Absen
Kekhawatiran tersebut mulai terasa dalam beberapa pertandingan internasional sebelum Piala Dunia 2026. Ketika Kane tidak bermain saat Inggris menghadapi Uruguay dan Jepang, performa tim terlihat berbeda dibanding biasanya.
Beberapa media Inggris bahkan menggambarkan permainan Three Lions sebagai “kehilangan arah” dan “kehilangan identitas”. Tim yang biasanya memiliki titik fokus di depan mendadak terlihat kesulitan menciptakan peluang berbahaya secara konsisten.
Situasi itu menunjukkan betapa besar pengaruh Kane terhadap permainan Inggris. Selama bertahun-tahun, hampir semua pola serangan dibangun dengan asumsi bahwa sang kapten akan berada di area penalti untuk menyelesaikan peluang.
Tanpa Kane, Inggris memang masih memiliki gelandang kreatif dan pemain sayap cepat. Namun mereka kehilangan sosok yang mampu menghubungkan permainan, menahan bola, membuka ruang, sekaligus menjadi mesin gol utama.
Harry Kane Justru Semakin Tajam di Bayern Munchen
Ironisnya, perdebatan mengenai masa depan lini depan Inggris muncul ketika Kane sedang menikmati salah satu periode paling produktif dalam kariernya. Setelah bergabung dengan Bayern Munich, performanya justru meningkat secara signifikan.
Dalam dua musim terakhir, Kane mencetak 95 gol hanya dalam 93 pertandingan Bundesliga. Angka tersebut membuatnya langsung masuk dalam percakapan sebagai salah satu striker asing paling sukses dalam sejarah klub raksasa Jerman itu.
Produktivitas tersebut menunjukkan bahwa Kane belum mengalami penurunan signifikan dari sisi kualitas individu. Secara statistik, ia masih termasuk salah satu penyerang paling efektif di Eropa.
Masalahnya bukan terletak pada Kane. Masalah terbesar justru muncul karena belum ada pemain muda Inggris yang benar-benar mampu menunjukkan tanda-tanda siap mengambil alih peran tersebut dalam waktu dekat.
Krisis Striker Mulai Menghantui Inggris
Data Premier League musim terakhir memberikan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Hanya tiga striker Inggris yang mampu mencetak dua digit gol sepanjang musim, jumlah yang menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah kompetisi.
Ollie Watkins mencetak 16 gol, Dominic Calvert-Lewin mengoleksi 14 gol, sementara Danny Welbeck menghasilkan 13 gol. Ketiganya tampil cukup baik, tetapi usia mereka tidak jauh berbeda dengan Kane.
Ivan Toney juga tampil produktif bersama Al Ahli dengan mencetak 31 gol dalam 30 pertandingan. Namun usianya juga sudah menginjak 30 tahun dan tidak dapat dianggap sebagai solusi jangka panjang.
Artinya, Inggris tidak hanya kehilangan calon pengganti Kane. Mereka juga menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar striker terbaik yang tersedia berasal dari generasi yang sama dengan sang kapten.
Mengapa Inggris Kehabisan Penyerang Murni?
Banyak analis menilai perubahan filosofi sepak bola modern menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah striker murni. Dalam dua dekade terakhir, posisi nomor sembilan tidak lagi menjadi impian utama pemain muda.
Jika dahulu anak-anak ingin menjadi Alan Shearer atau Michael Owen, kini banyak pemain muda lebih tertarik bermain sebagai winger atau penyerang sayap. Mereka terinspirasi oleh pemain seperti Mohamed Salah, Vinicius Junior, atau Bukayo Saka.
Perubahan taktik juga berperan besar. Banyak pelatih modern lebih menyukai penyerang yang fleksibel dan mampu bergerak ke berbagai area dibanding striker tradisional yang hanya menunggu di kotak penalti.
Akibatnya, akademi sepak bola Inggris menghasilkan lebih banyak pemain sayap dan gelandang menyerang dibanding penyerang tengah murni. Dampaknya mulai terlihat sekarang ketika generasi penerus Kane belum benar-benar siap.
Liam Delap dan Harapan yang Belum Pasti
Saat ini nama yang paling sering disebut sebagai calon penerus Harry Kane adalah Liam Delap. Penyerang muda tersebut memiliki fisik kuat, naluri gol yang baik, dan sempat dianggap sebagai salah satu prospek terbaik Inggris.
Namun perjalanan Delap belum berjalan mulus. Musim pertamanya bersama Chelsea terganggu cedera dan minim produktivitas, membuat proses perkembangannya berjalan lebih lambat dibanding harapan banyak pihak.
Selain Delap, Inggris juga memiliki Jay Stansfield dan beberapa penyerang muda lain yang menjanjikan. Akan tetapi belum ada satu nama pun yang benar-benar memperlihatkan kualitas setara Kane pada usia yang sama.
Situasi ini mengingatkan banyak orang pada masa ketika Wayne Rooney mendekati akhir kariernya. Saat itu publik juga khawatir, sebelum akhirnya Kane muncul dari luar perkiraan dan mengubah segalanya.
Inggris Berharap Sejarah Kembali Terulang
Dalam sepak bola, prediksi sering kali terbukti salah. Tidak banyak yang memperkirakan Harry Kane akan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Inggris ketika masih berjuang mendapatkan menit bermain di Tottenham.
Karena itu, masih ada kemungkinan bahwa penyerang muda lain akan muncul secara tiba-tiba dalam beberapa tahun mendatang. Inggris memiliki sistem pembinaan yang kuat dan kompetisi domestik yang sangat kompetitif.
Meski demikian, untuk saat ini bayang-bayang masa depan tetap terlihat mengkhawatirkan. Jika Kane pensiun setelah Piala Dunia 2026 atau beberapa tahun berikutnya, Inggris belum memiliki jawaban yang benar-benar meyakinkan.
Yang pasti, perjalanan Harry Kane di Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang upaya membawa Inggris meraih trofi. Turnamen ini juga menjadi pengingat bahwa generasi emas penyerang Inggris mungkin sedang memasuki bab terakhirnya, dan belum ada yang tahu siapa tokoh utama pada bab berikutnya.



