Treble Inter Milan 2010 menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola Italia, ketika Jose Mourinho membawa Nerazzurri menjuarai Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions. Kesuksesan tersebut lahir dari perubahan besar dalam taktik, kebijakan transfer, serta mentalitas tim yang sebelumnya kesulitan bersaing di Eropa.
Inter Milan sebenarnya sudah menjadi kekuatan dominan di Italia sebelum kedatangan Mourinho, tetapi keberhasilan domestik belum mampu mengakhiri penantian panjang mereka di Liga Champions. Pelatih asal Portugal itu kemudian mengubah tim yang terbiasa menjadi juara Serie A menjadi kekuatan yang sanggup mengalahkan klub-klub terbaik Eropa.
Puncaknya terjadi pada 22 Mei 2010 ketika Inter mengalahkan Bayern Munchen 2-0 dalam final Liga Champions di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid. Dua gol Diego Milito memastikan treble Inter Milan 2010 sekaligus mengakhiri penantian 45 tahun klub tersebut untuk kembali mengangkat trofi tertinggi antarklub Eropa.
Keberhasilan tersebut semakin istimewa karena Inter harus melewati Chelsea asuhan Carlo Ancelotti, Barcelona yang dilatih Pep Guardiola, serta Bayern Munchen di bawah Louis van Gaal. Mourinho menaklukkan tiga pelatih dengan pendekatan berbeda melalui kombinasi organisasi pertahanan, serangan balik, dan keberanian menyesuaikan strategi.
Dilansir GOAL perjalanan bersejarah tersebut juga menunjukkan bagaimana Mourinho mampu membangun hubungan emosional dengan para pemainnya. Keberhasilannya bukan sekadar memenangkan pertandingan besar, melainkan menciptakan tim dengan pemahaman jelas mengenai tugas masing-masing pemain.
Awal Treble Inter Milan 2010: Dari Dominasi Mancini hingga Revolusi Mourinho
Sebelum Mourinho datang, Roberto Mancini telah membangun fondasi kuat dengan membawa Inter meraih tiga gelar Serie A berturut-turut dan mendominasi kompetisi domestik. Namun, catatan tersebut tidak diikuti pencapaian serupa di Eropa karena Nerazzurri berulang kali gagal melewati babak 16 besar Liga Champions.
Kegagalan menghadapi Liverpool pada musim 2007/08 menjadi titik balik setelah Inter tersingkir dengan agregat 0-3 dan Mancini menyatakan rencana mundur. Meski kemudian berusaha menarik pernyataannya, hubungan sang pelatih dengan manajemen semakin sulit dipertahankan setelah kekalahan dari AS Roma pada final Coppa Italia.
Presiden Inter, Massimo Moratti, akhirnya memutuskan mengganti Mancini dengan Mourinho yang sebelumnya telah membuktikan kualitasnya bersama FC Porto dan Chelsea. Moratti membutuhkan pelatih yang bukan hanya mempertahankan dominasi Serie A, tetapi juga mampu mengembalikan Inter ke jajaran elite Eropa.
Dalam konferensi pers pertamanya, Mourinho langsung menunjukkan ambisi besar ketika ditanya mengenai peluang memenangkan tiga gelar sekaligus bersama klub barunya. Pelatih berjuluk The Special One tersebut bahkan menambahkan Piala Super Italia sebagai trofi lain yang ingin dimenangkan dalam perjalanan membangun tim.
Musim 2008/09 menjadi periode adaptasi ketika Mourinho berhasil mempertahankan gelar Serie A dengan keunggulan sepuluh poin atas Juventus yang menempati posisi kedua. Namun, kegagalan kembali terjadi di Liga Champions setelah Inter disingkirkan Manchester United dengan agregat 0-2 pada babak 16 besar.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pergantian pelatih saja belum cukup untuk mengubah kemampuan Inter menghadapi tim-tim terbaik di Eropa dalam pertandingan gugur. Mourinho membutuhkan pemain yang sesuai dengan rencana permainannya, terutama untuk meningkatkan kreativitas, efektivitas serangan, dan kemampuan bertahan secara kolektif.
Perubahan terbesar kemudian dilakukan pada bursa transfer musim panas 2009 ketika Inter memutuskan melepas Zlatan Ibrahimovic ke Barcelona melalui kesepakatan bernilai besar. Barcelona menyerahkan Samuel Eto’o beserta uang sekitar 46 juta euro untuk mendapatkan penyerang Swedia yang sebelumnya menjadi mesin gol utama Nerazzurri.
Keputusan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan karena Ibrahimovic merupakan pencetak gol terbanyak Serie A 2008/09 dan sosok penting dalam dominasi domestik Inter. Namun, Mourinho mendapatkan Eto’o yang lebih sesuai dengan kebutuhan taktisnya karena sang penyerang mampu bermain melebar sekaligus membantu pertahanan.
Inter kemudian mendatangkan Diego Milito dan Thiago Motta dari Genoa, sementara Wesley Sneijder direkrut dari Real Madrid untuk memperkuat kreativitas lini tengah. Bek tengah asal Brasil, Lucio, juga bergabung dari Bayern Munchen untuk melengkapi fondasi pertahanan yang sudah memiliki Walter Samuel dan Javier Zanetti.
Transfer tersebut mengubah keseimbangan skuad karena Mourinho memperoleh pemain dengan karakter berbeda yang dapat saling melengkapi dalam berbagai situasi pertandingan. Milito menjadi penyelesai serangan, Sneijder mengatur kreativitas, sedangkan Eto’o menghadirkan kecepatan dan disiplin saat tim kehilangan penguasaan bola.
Mourinho kemudian meninggalkan pendekatan 4-3-3 yang sempat digunakan pada musim pertamanya dan semakin mengandalkan struktur 4-2-3-1 dengan Sneijder sebagai pengatur serangan. Perubahan tersebut memungkinkan Milito beroperasi sebagai penyerang utama, sementara Eto’o dan Goran Pandev bekerja dari area sayap.
Di belakang mereka, Esteban Cambiasso bersama Zanetti atau Motta memberikan perlindungan bagi pertahanan sekaligus membantu mengatur transisi ketika Inter merebut bola. Struktur permainan tersebut menjadi dasar keberhasilan Mourinho karena setiap pemain memahami kapan harus menekan, bertahan, dan melakukan serangan balik.
Mourinho Menaklukkan Chelsea dan Menghentikan Barcelona
Perjalanan Inter di Liga Champions 2009/10 sebenarnya tidak langsung berjalan meyakinkan karena mereka hanya meraih tiga hasil imbang dalam tiga pertandingan pertama. Mereka juga kalah dari Barcelona di Camp Nou sebelum akhirnya lolos sebagai runner-up grup dan bertemu Chelsea pada babak 16 besar.
Pertemuan tersebut menjadi ujian besar bagi Mourinho karena Chelsea merupakan klub yang pernah dibawanya meraih dua gelar Liga Inggris secara berturut-turut. Situasi semakin menarik karena lawannya ditangani Carlo Ancelotti, pelatih Italia yang sebelumnya menjadi rival Mourinho ketika masih bekerja bersama AC Milan.
Menjelang pertandingan, hubungan kedua pelatih memanas akibat berbagai komentar mengenai gaya kepemimpinan dan popularitas Mourinho di kalangan pencinta sepak bola Italia. Ketegangan tersebut terjadi ketika performa Inter di Serie A mulai menurun akibat serangkaian hasil imbang yang memperkecil keunggulan mereka.
Mourinho bahkan sempat terlibat kontroversi setelah dua pemainnya menerima kartu merah dalam pertandingan melawan Sampdoria dan ia memperlihatkan gestur tangan seperti diborgol. Insiden tersebut berujung hukuman larangan mendampingi tim selama tiga pertandingan dan denda 40.000 euro akibat perilakunya terhadap perangkat pertandingan.
Namun, tekanan tidak menghalangi Inter mengalahkan Chelsea 2-1 di San Siro melalui permainan efisien yang mampu memanfaatkan celah pertahanan lawan. Pada pertemuan kedua di Stamford Bridge, gol Samuel Eto’o menit ke-79 memastikan kemenangan 1-0 dan membawa Nerazzurri lolos dengan agregat 3-1.
Keberhasilan tersebut menjadi titik penting karena Inter akhirnya melewati babak 16 besar setelah beberapa musim berulang kali tersingkir pada fase yang sama. Kemenangan atas Chelsea juga memperlihatkan bahwa organisasi permainan Mourinho mulai mampu menghasilkan keberhasilan nyata ketika menghadapi lawan dengan kualitas setara.
Inter kemudian menyingkirkan CSKA Moscow dengan agregat 2-0 pada perempat final sebelum menghadapi Barcelona yang berstatus juara bertahan Liga Champions. Tim asuhan Guardiola menjadi favorit karena memiliki Lionel Messi, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan filosofi penguasaan bola yang mendominasi Eropa.
Pertemuan kedua tim juga membawa cerita pribadi Mourinho yang pernah bekerja di Barcelona sebagai penerjemah dan asisten Bobby Robson sebelum menjadi bagian staf Van Gaal. Ketika Barcelona mencari pelatih pada 2008, Mourinho sempat dipertimbangkan, tetapi klub akhirnya menunjuk Guardiola untuk memimpin proyek sepak bola mereka.
Pada leg pertama semifinal di San Siro, Barcelona sempat unggul melalui gol Pedro sebelum Inter membalikkan keadaan lewat Wesley Sneijder, Maicon, dan Diego Milito. Kemenangan 3-1 menjadi bekal penting karena Nerazzurri tidak sekadar bertahan, tetapi mampu menyerang kelemahan Barcelona melalui pergerakan cepat dan kombinasi antarpemain.
Situasi berubah pada pertandingan kedua di Camp Nou ketika Inter harus mempertahankan keunggulan dua gol menghadapi tekanan besar dari tim tuan rumah. Mourinho memilih pendekatan lebih defensif dengan menempatkan Javier Zanetti di sisi kiri pertahanan untuk membantu membatasi ruang gerak Lionel Messi.
Tantangan semakin berat setelah Thiago Motta menerima kartu merah langsung pada menit ke-28 akibat insiden dengan Sergio Busquets sehingga Inter bermain dengan sepuluh orang. Kondisi tersebut memaksa Mourinho menginstruksikan pemainnya bertahan lebih rapat dan mengutamakan penutupan ruang di sekitar kotak penalti.
Barcelona mendominasi penguasaan bola, tetapi Inter memperlihatkan organisasi pertahanan luar biasa melalui koordinasi Lucio, Walter Samuel, Maicon, dan pemain tengah yang terus membantu. Julio Cesar juga melakukan penyelamatan penting untuk menggagalkan peluang Messi ketika tekanan Barcelona semakin meningkat.
Gol Gerard Pique pada menit ke-84 sempat menghidupkan harapan Barcelona, tetapi Inter tetap mempertahankan keunggulan agregat meskipun kalah 0-1. Gol Bojan Krkic menjelang akhir pertandingan dianulir wasit sehingga Nerazzurri memastikan tempat pada final Liga Champions pertama mereka sejak 1972.
Mourinho langsung berlari ke lapangan setelah peluit panjang untuk merayakan keberhasilan tersebut di hadapan pendukung Inter yang datang ke Camp Nou. Selebrasi itu berlangsung dramatis ketika penjaga gawang Barcelona Victor Valdes berusaha menghentikannya dan sistem penyiram rumput stadion kemudian dinyalakan.
Kemenangan tersebut menjadi simbol kemampuan Mourinho memenangkan pertandingan melalui pendekatan yang disesuaikan dengan situasi, bukan mempertahankan satu gaya permainan dalam segala kondisi. Inter mampu menyerang Barcelona secara efektif di Milan dan kemudian bertahan hampir sepanjang pertandingan di Spanyol untuk memastikan kelolosan.
Final Liga Champions 2010: Mourinho Kalahkan Van Gaal dan Cetak Sejarah
Final di Santiago Bernabeu mempertemukan Mourinho dengan Louis van Gaal, mantan atasannya ketika masih bekerja dalam staf kepelatihan Barcelona pada akhir 1990-an. Keduanya membawa pendekatan berbeda karena Bayern mengandalkan penguasaan bola dan permainan menyerang, sementara Inter lebih menekankan keseimbangan serta efektivitas.
Bayern datang setelah menjuarai Bundesliga dan DFB-Pokal dengan mengandalkan kreativitas Arjen Robben serta kontribusi sejumlah pemain seperti Thomas Muller dan Ivica Olic. Namun, mereka kehilangan Franck Ribery akibat skorsing sehingga Van Gaal harus menyesuaikan susunan pemain untuk pertandingan terpenting musim tersebut.
Menjelang final, Van Gaal menegaskan sepak bola seharusnya memberikan hiburan kepada penonton melalui permainan menyerang, sebuah pandangan yang sekaligus menyinggung pendekatan Mourinho. Perbedaan filosofi itu membuat pertandingan bukan hanya perebutan trofi, tetapi juga pembuktian mengenai cara terbaik memenangkan laga besar.
Sejak awal pertandingan, Bayern berusaha menguasai permainan melalui pergerakan Robben dan kombinasi antarpemain yang membuka ruang di pertahanan Inter. Namun, tim Mourinho tetap disiplin menjaga posisi dan menunggu kesempatan menyerang ketika pemain Bayern meninggalkan ruang di belakang garis pertahanan.
Kesempatan tersebut datang pada menit ke-35 ketika tendangan jauh Julio Cesar diteruskan Diego Milito kepada Wesley Sneijder yang langsung memberikan umpan balik. Milito kemudian melewati pengawalnya sebelum melepaskan penyelesaian akurat untuk membawa Inter unggul 1-0 menjelang berakhirnya babak pertama.
Bayern meningkatkan tekanan setelah turun minum dan menciptakan sejumlah peluang melalui pergerakan Robben, Muller, serta Hamit Altintop di sekitar pertahanan Nerazzurri. Julio Cesar tampil penting dengan melakukan penyelamatan yang menjaga keunggulan Inter ketika pemain Bayern semakin agresif mencari gol penyeimbang.
Pada menit ke-70, Milito kembali membuktikan ketajamannya setelah menerima umpan Samuel Eto’o dan mengecoh Daniel Van Buyten di dalam kotak penalti. Penyerang Argentina itu kemudian melepaskan tembakan yang memastikan kemenangan 2-0 sekaligus mengakhiri harapan Bayern untuk membalas ketertinggalan.
Dua gol Milito melengkapi musim luar biasa karena sebelumnya ia juga mencetak gol kemenangan Inter atas AS Roma pada final Coppa Italia. Penyerang tersebut turut menentukan gelar Serie A melalui gol tunggal dalam kemenangan atas Siena pada pertandingan terakhir kompetisi domestik.
Keberhasilan Inter sekaligus menjadikan klub tersebut tim Italia pertama yang memenangkan Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions dalam satu musim. Mereka juga mengakhiri penantian 45 tahun sejak terakhir menjuarai kompetisi antarklub Eropa pada 1965 di bawah pelatih legendaris Helenio Herrera.
Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa taktik defensif Mourinho bukan sekadar menumpuk pemain di belakang, melainkan mengendalikan ruang dan memilih momentum untuk menyerang. Inter tidak membutuhkan penguasaan bola lebih besar daripada Bayern karena mampu menciptakan peluang menentukan melalui koordinasi dan kecepatan transisi.
Mourinho juga membuktikan fleksibilitas melalui kontribusi pemain seperti Eto’o yang bersedia menjalankan tanggung jawab defensif meskipun sebelumnya dikenal sebagai penyerang produktif. Kesediaan pemain bintang mengutamakan kebutuhan kolektif menjadi pembeda penting yang membantu Inter mempertahankan keseimbangan menghadapi lawan-lawan terbaik Eropa.
Warisan Treble Inter Milan 2010 dan Perpisahan Mourinho
Keberhasilan tersebut menjadikan Mourinho pelatih ketiga yang memenangkan kompetisi tertinggi antarklub Eropa bersama dua tim berbeda setelah Ernst Happel dan Ottmar Hitzfeld. Sebelumnya, ia telah membawa Porto menjuarai Liga Champions 2004 sebelum mengulang pencapaian tersebut bersama Inter enam tahun kemudian.
Namun, malam bersejarah di Madrid juga menjadi akhir perjalanan Mourinho bersama Nerazzurri setelah dua musim membangun hubungan erat dengan pemain dan pendukung. Seusai pertandingan, ia mengonfirmasi keputusannya meninggalkan Italia ketika kabar mengenai kepindahan ke Real Madrid semakin menguat.
“Saya tidak meninggalkan Inter, saya meninggalkan Italia,” ujar Mourinho ketika menjelaskan keputusannya setelah memastikan gelar Liga Champions bersama Nerazzurri.
Momen perpisahan paling emosional terjadi ketika Mourinho melihat Marco Materazzi berada di dekat bus tim saat rombongan bersiap meninggalkan Santiago Bernabeu. Sang pelatih meminta mobilnya berhenti, kemudian menghampiri bek veteran tersebut sebelum keduanya berpelukan sambil menangis dalam suasana penuh haru.
Materazzi memang bukan pemain utama sepanjang musim tersebut dengan hanya mencatatkan 19 penampilan di semua kompetisi, tetapi tetap memiliki peran penting di ruang ganti. Kedekatannya dengan Mourinho menunjukkan bahwa kepemimpinan sang pelatih tidak hanya bergantung pada taktik, melainkan juga hubungan personal dengan skuad.
Setelah Mourinho pergi, Inter menunjuk Rafael Benitez sebagai pengganti, tetapi pelatih asal Spanyol itu hanya bertahan hingga Desember 2010 sebelum digantikan Leonardo. Nerazzurri kemudian kehilangan gelar Serie A dan tersingkir dari Liga Champions setelah dikalahkan Schalke dengan agregat 3-7 pada perempat final.
Kemunduran berlanjut ketika Inter gagal mempertahankan konsistensi di kompetisi Eropa dan akhirnya mengalami periode panjang tanpa tampil di Liga Champions. Mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali kekuatan hingga menjadi salah satu kandidat juara Eropa pada era berikutnya.
Di bawah Simone Inzaghi, Inter kembali mencapai final Liga Champions pada 2023 dan 2025, tetapi dua kesempatan tersebut berakhir dengan kekalahan. Manchester City mengalahkan mereka 1-0 pada 2023, sedangkan Paris Saint-Germain mencatat kemenangan telak 5-0 pada final 2025.
Rangkaian kegagalan tersebut menunjukkan betapa sulitnya mengulang treble Inter Milan 2010 meskipun klub kembali memiliki skuad kompetitif dan mampu bersaing di Italia. Kesuksesan Mourinho lahir dari perpaduan pemain yang tepat, organisasi permainan, ketangguhan mental, serta kemampuan mengambil keputusan pada pertandingan menentukan.
Mourinho sendiri melanjutkan karier ke Real Madrid dan membawa klub tersebut mencapai semifinal Liga Champions dalam tiga musim berturut-turut tanpa memenangkan kompetisi. Meski demikian, keberhasilannya bersama Inter tetap menjadi salah satu pencapaian paling berkesan dalam perjalanan kepelatihannya di level tertinggi Eropa.
Treble Inter Milan 2010 bukan hanya kisah kemenangan tim yang memiliki pertahanan kuat, tetapi keberhasilan membangun kesatuan antara strategi, karakter pemain, dan kepemimpinan. Mourinho membuktikan bahwa menghadapi lawan yang lebih dominan tidak selalu menuntut penguasaan bola lebih besar, melainkan kemampuan memaksimalkan setiap peluang.


