Nama Kylian Mbappe kembali menjadi sorotan utama setelah membawa Prancis meraih kemenangan 3-1 atas Senegal pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Rabu (17/06/2026). Dua gol yang dicetak sang kapten membuat sebagian besar perhatian publik tertuju kepadanya, namun cerita sesungguhnya justru berada di balik performa gemilang Michael Olise.
Dalam pertandingan yang berlangsung ketat tersebut, Michael Olise tampil sebagai pemain yang mengubah arah permainan Prancis ketika timnya kesulitan membongkar pertahanan Senegal. Peran gelandang serang Bayern Munchen itu bahkan bisa dibilang sama pentingnya dengan kontribusi gol yang dicetak Mbappe sepanjang pertandingan.
Dua tahun lalu, sulit membayangkan Michael Olise menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam skuad Les Bleus di ajang sebesar Piala Dunia. Saat Euro 2024 berlangsung, pemain kelahiran London itu bahkan belum masuk dalam lingkaran utama tim nasional Prancis dan masih membela Crystal Palace di Liga Inggris.
Perjalanan karier Michael Olise berubah drastis setelah kepindahannya ke Bayern Munchen yang membuat kualitas permainannya berkembang sangat cepat. Pengalaman tampil di Liga Champions serta persaingan ketat di Bundesliga membentuk dirinya menjadi pemain yang lebih matang secara teknik maupun mental.
Ketika Didier Deschamps mengumumkan daftar pemain untuk Piala Dunia 2026, nama Michael Olise memang masuk dalam daftar unggulan. Namun banyak pengamat menilai sorotan tetap akan tertuju kepada Mbappe, Ousmane Dembele, serta generasi muda Prancis seperti Désiré Doué yang tampil impresif bersama Paris Saint-Germain.
Pandangan tersebut berubah hanya dalam waktu 90 menit saat Prancis menghadapi Senegal pada laga pertama fase grup. Michael Olise tidak hanya menunjukkan kualitas individu yang luar biasa, tetapi juga memperlihatkan kemampuan membaca permainan yang membuat lini serang Prancis jauh lebih hidup.
Babak pertama menjadi periode yang sulit bagi tim asuhan Didier Deschamps yang tampil jauh di bawah ekspektasi. Senegal mampu menutup ruang dengan disiplin sehingga Prancis hanya mampu menghasilkan satu tembakan dengan nilai expected goals yang sangat rendah.
Mbappe terlihat frustrasi sepanjang 45 menit pertama karena kesulitan mendapatkan ruang di area berbahaya lawan. Sementara itu, Michael Olise yang dimainkan di sisi kanan juga belum mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap jalannya pertandingan karena minimnya dukungan dari lini tengah.
Statistik babak pertama menunjukkan betapa buruknya performa Prancis sebagai salah satu kandidat juara dunia tahun ini. Mereka hanya beberapa kali menyentuh bola di kotak penalti Senegal dan gagal menciptakan peluang bersih yang benar-benar mengancam gawang Édouard Mendy.
Dalam situasi seperti itu, banyak pelatih kemungkinan akan menarik pemain yang tampil kurang efektif pada babak pertama. Namun Didier Deschamps justru mengambil keputusan berbeda dengan mempertahankan Michael Olise dan mengubah posisinya menjadi lebih sentral di belakang Mbappe.
Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah keseluruhan wajah permainan Prancis pada babak kedua. Michael Olise mendapatkan lebih banyak kebebasan bergerak di area tengah sehingga mampu terlibat langsung dalam proses pembangunan serangan tim.
Perubahan posisi itu langsung menghasilkan dampak yang sangat terasa sejak menit-menit awal babak kedua dimulai. Prancis yang sebelumnya terlihat lambat dan mudah ditebak berubah menjadi tim yang jauh lebih agresif, kreatif, dan berbahaya ketika menyerang.
Data pertandingan menunjukkan betapa dominannya Michael Olise setelah dimainkan sebagai gelandang serang bebas. Sebagian besar aliran bola menuju sepertiga akhir lapangan Senegal berasal dari kaki pemain berusia 24 tahun tersebut.
Sepanjang pertandingan, Michael Olise mencatatkan jumlah umpan di area sepertiga akhir lapangan yang jauh lebih banyak dibandingkan rekan-rekan setimnya. Tingkat akurasi umpannya juga berada pada level yang sangat tinggi sehingga membuat permainan Prancis lebih efektif dan efisien.
Bukan hanya soal distribusi bola, Michael Olise juga menjadi pemain yang paling banyak menciptakan peluang berbahaya bagi timnya. Kemampuan membaca ruang dan menentukan waktu umpan membuat pertahanan Senegal berkali-kali kehilangan keseimbangan ketika menghadapi serangan Prancis.
Momen yang paling menentukan tentu terjadi saat proses gol pembuka yang dicetak Mbappe pada babak kedua. Michael Olise mengirimkan umpan terukur yang membelah garis pertahanan Senegal dan memberikan peluang emas kepada sang kapten untuk mencetak gol.
Bagi Mbappe, peluang tersebut menjadi titik awal kebangkitan setelah sebelumnya tampil kurang maksimal sepanjang babak pertama. Namun bagi Michael Olise, momen itu menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pemain dengan kemampuan dribel yang memukau.
Selama ini banyak penggemar mengenal Michael Olise sebagai pemain yang piawai melewati lawan dalam situasi satu lawan satu. Akan tetapi pertandingan melawan Senegal memperlihatkan sisi lain dari permainannya, yakni visi, kreativitas, dan kualitas umpan yang berada pada level elite.
Beberapa kali Michael Olise mampu melewati lebih dari satu pemain Senegal hanya dengan sentuhan sederhana dan perubahan arah tubuh yang cepat. Kemampuan tersebut membuat lini pertahanan lawan terpaksa keluar dari posisi ideal sehingga membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Salah satu peluang terbaik bahkan lahir dari aksi individu Michael Olise yang menusuk ke kotak penalti sebelum akhirnya digagalkan kiper Senegal. Meski tidak berbuah gol, aksi tersebut menunjukkan kepercayaan diri tinggi yang dimiliki pemain Bayern Munchen tersebut.
Menurut data statistik pertandingan, peluang yang diciptakan Michael Olise menghasilkan angka expected assists yang termasuk tertinggi pada fase awal turnamen. Catatan itu menempatkannya sejajar dengan para playmaker terbaik yang tampil di Piala Dunia 2026.
Lebih menarik lagi, kontribusi Michael Olise tidak hanya terlihat melalui peluang yang ia ciptakan untuk rekan setimnya. Ia juga mampu menempatkan dirinya pada posisi yang tepat untuk mendapatkan kesempatan mencetak gol melalui pergerakan tanpa bola yang cerdas.
Kombinasi antara kreativitas dan ancaman langsung ke gawang lawan menjadikan Michael Olise sebagai paket lengkap dalam lini serang Prancis. Karakter permainan seperti inilah yang selama beberapa tahun terakhir dicari oleh Didier Deschamps untuk mendukung Mbappe.
Jika Mbappe menjadi eksekutor yang menyelesaikan serangan, maka Michael Olise adalah arsitek yang merancang jalannya serangan tersebut. Hubungan keduanya terlihat semakin kuat sepanjang babak kedua ketika Senegal mulai kesulitan mengantisipasi variasi permainan Prancis.
Gol kedua Mbappe juga tidak lepas dari pengaruh Michael Olise yang memulai rangkaian serangan melalui akselerasi dari area tengah lapangan. Walaupun tidak tercatat sebagai pemberi assist resmi, kontribusinya dalam proses gol tersebut sangat signifikan.
Dalam sepak bola modern, pemain seperti Michael Olise memiliki nilai yang sangat tinggi karena mampu menjalankan beberapa peran sekaligus. Ia bisa menjadi kreator peluang, penghubung antar lini, penggiring bola progresif, hingga ancaman langsung di depan gawang lawan.
Kemenangan atas Senegal memang baru langkah pertama bagi Prancis dalam perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Namun performa Michael Olise memberikan sinyal bahwa Les Bleus kini memiliki senjata baru yang dapat menjadi pembeda ketika menghadapi lawan-lawan yang lebih kuat.
Bagi publik sepak bola dunia, nama Michael Olise mungkin belum sebesar Mbappe atau Dembele sebelum turnamen dimulai. Akan tetapi jika performa seperti ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pemain Bayern Munchen tersebut akan menjadi salah satu bintang terbesar di Piala Dunia tahun ini.
Mbappe mungkin akan tetap menghiasi halaman depan media karena dua gol yang dicetaknya membawa Prancis meraih tiga poin penting. Namun mereka yang menyaksikan pertandingan secara utuh memahami bahwa kemenangan tersebut lahir dari kecerdasan, kreativitas, dan pengaruh besar Michael Olise di atas lapangan.
Ketika turnamen masih panjang dan persaingan semakin ketat, keberadaan Michael Olise bisa menjadi faktor yang menentukan nasib Prancis dalam perburuan gelar juara dunia. Jika laga melawan Senegal menjadi gambaran awal, maka Les Bleus tampaknya telah menemukan sosok jenius baru yang siap bersinar di panggung terbesar sepak bola dunia.



