FIFA kembali menjadi sorotan sekitar satu setengah pekan setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Induk sepak bola dunia itu mengusulkan pembentukan perusahaan baru yang akan mengelola hak komersial dan operasional sejumlah turnamen terbesar mereka.
Perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise atau FFE tersebut dirancang untuk menerima investasi swasta dengan valuasi awal mencapai 20 miliar dolar AS. Rencana itu langsung memicu penolakan karena dinilai berpotensi menyerahkan masa depan Piala Dunia kepada kepentingan pemodal.
UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras menentang proposal tersebut dan menilai tata kelola sepak bola tidak seharusnya diperjualbelikan. Dilansir CNN Sports, sejumlah federasi, organisasi klub, serikat pemain, pejabat, dan kelompok suporter juga mempertanyakan transparansi penyusunan rencana itu.
Apa Itu FIFA Forward Enterprise?
FIFA Forward Enterprise dirancang sebagai entitas terpisah yang akan mengendalikan sisi komersial seluruh kompetisi milik FIFA. Kewenangannya mencakup hak siar, sponsor, penjualan tiket, lisensi, serta berbagai aktivitas yang menghasilkan pendapatan.
FFE juga akan menangani urusan operasional, mulai dari perencanaan, persiapan, hingga penyelenggaraan turnamen. Kompetisi yang berada di bawah pengelolaannya antara lain Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
FIFA menyatakan tetap menjadi pemilik dan memegang kendali tunggal atas perusahaan tersebut. Otoritas olahraga seperti format kompetisi, regulasi, kalender pertandingan, tata kelola, dan keputusan teknis disebut tidak akan diserahkan kepada investor.
Induk sepak bola dunia itu juga berjanji seluruh keuntungan bersih yang diperoleh FFE akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola global. Namun, pernyataan tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran mengenai pengaruh pemodal terhadap keputusan FIFA.
FIFA Incar Investasi 4,2 Miliar Dolar AS
FIFA berencana menghimpun dana sekitar 4,2 miliar dolar AS melalui penjualan saham minoritas FFE kepada investor jangka panjang. Investor tersebut diklaim hanya mendapatkan kepemilikan nonpengendali, sehingga tidak memiliki kewenangan langsung atas kebijakan olahraga.
Sekitar 20 persen saham perusahaan diperkirakan akan dilepas dalam skema tahap awal. Meski jumlah itu terlihat terbatas, belum ada jaminan bahwa kepemilikan investor swasta akan selamanya dibatasi pada angka tersebut.
Dana investasi akan digunakan untuk meningkatkan bantuan kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Setiap federasi berpeluang mendapatkan dukungan hingga 40 juta dolar AS apabila proposal disepakati.
Rinciannya terdiri atas 20 juta dolar AS untuk siklus anggaran 2027–2030, meningkat dari alokasi sebelumnya yang hanya mencapai 8 juta dolar AS. FIFA juga menawarkan pembayaran langsung tambahan sebesar 20 juta dolar AS yang bersumber dari investasi swasta.
Presiden FIFA Gianni Infantino disebut memberikan tenggat hingga 19 September kepada asosiasi anggota untuk menerima tawaran pembayaran tambahan tersebut. Batas waktu itu ikut dikritik karena dianggap memberikan tekanan kepada federasi agar segera mendukung proposal.
Model Bisnis Bukan Hal Baru dalam Olahraga
Pemisahan antara pengelolaan olahraga dan sisi komersial sebenarnya bukan konsep baru. Formula One, misalnya, memiliki hak komersial dan operasional yang dikelola Liberty Media, sementara regulasi olahraganya berada di bawah Federasi Otomotif Internasional atau FIA.
Investasi perusahaan ekuitas swasta juga sudah masuk ke berbagai cabang olahraga besar. Liga seperti NFL, NBA, MLB, serta PGA Tour telah membuka ruang bagi modal institusional dengan bentuk dan aturan yang berbeda.
Namun, Piala Dunia mempunyai posisi unik karena bukan sekadar kompetisi komersial. Turnamen tersebut membawa identitas negara, sejarah, kepentingan publik, dan keterlibatan federasi dari seluruh dunia.
Kritikus menilai model bisnis yang dapat diterapkan pada kompetisi profesional belum tentu cocok digunakan untuk Piala Dunia. Risiko terbesar muncul ketika kepentingan olahraga harus berhadapan dengan tuntutan keuntungan investor.
Penyusunan Proposal Dinilai Tidak Transparan
Kontroversi pertama muncul dari cara proposal tersebut disusun dan diumumkan. Informasi mengenai pembentukan FFE justru pertama kali muncul melalui laporan media Inggris sebelum akhirnya dikonfirmasi oleh FIFA.
Sejumlah pemangku kepentingan mengaku tidak pernah diajak berdiskusi sebelum rencana diumumkan kepada publik. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai proses konsultasi dan tata kelola di dalam FIFA.
Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia atau CONCACAF menyatakan sangat khawatir terhadap tidak adanya proses yang layak. Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC juga mengatakan tidak dilibatkan dalam penyusunan proposal.
Kritik menjadi semakin kuat karena kedua konfederasi tersebut mewakili banyak asosiasi anggota FIFA. Mereka menilai keputusan besar mengenai pengelolaan hak Piala Dunia seharusnya melalui pembahasan terbuka dengan seluruh pihak terkait.
Meski demikian, proposal tersebut belum resmi diberlakukan. Rencana pembentukan FFE masih membutuhkan persetujuan mayoritas asosiasi anggota serta pengesahan dari Dewan FIFA.
Keterlibatan Investor Picu Kekhawatiran
Kelompok investor utama yang dikaitkan dengan proposal tersebut adalah Thrive Eternal. Perusahaan itu dipimpin Joshua Kushner, adik Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hubungan tersebut menambah sensitivitas politik dalam pembahasan proposal. Kritikus mempertanyakan kemungkinan munculnya konflik kepentingan ketika bisnis, politik, dan tata kelola sepak bola berada dalam satu ruang keputusan.
FIFA menegaskan investor hanya akan membeli saham minoritas dan tidak mengendalikan perusahaan. Namun, tidak ada keterangan yang secara tegas menyebutkan bahwa kepemilikan swasta akan dibatasi sekitar 20 persen untuk selamanya.
Kekhawatiran utama bukan hanya mengenai besarnya kepemilikan saham. Investor yang menanamkan miliaran dolar tentu akan mengharapkan keuntungan dan pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.
Tekanan untuk menghasilkan pendapatan lebih tinggi dikhawatirkan dapat memengaruhi keputusan mengenai format turnamen. Investor berpotensi mendorong penambahan pertandingan, perluasan peserta, atau penyelenggaraan kompetisi dengan frekuensi lebih sering.
Piala Dunia Bisa Terus Diperluas
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara. Penambahan peserta menghasilkan lebih banyak pertandingan, penjualan tiket, hak siar, sponsor, dan pendapatan komersial dibandingkan format 32 tim.
Jeda minum dalam pertandingan juga dapat menyediakan ruang tambahan bagi pemegang hak siar untuk menampilkan iklan. Meski awalnya ditujukan bagi keselamatan pemain, setiap jeda pertandingan memiliki potensi nilai komersial.
Infantino sebelumnya juga pernah membuka pembicaraan mengenai kemungkinan memperluas turnamen lebih jauh. Kehadiran investor dikhawatirkan memperbesar tekanan agar Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub kembali menambah peserta.
Pertanyaan lain adalah kemungkinan penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun, bukan empat tahun. Format tersebut berpotensi meningkatkan jumlah pertandingan dan pendapatan, tetapi dapat mengganggu kalender sepak bola internasional.
Liga domestik serta kompetisi kontinental seperti Liga Champions akan terkena dampak apabila jadwal FIFA semakin padat. Klub juga harus melepas pemain lebih sering untuk mengikuti agenda tim nasional.
Kondisi Pemain Menjadi Taruhan
Pemain saat ini sudah menghadapi kalender yang sangat padat di level klub dan internasional. Penambahan pertandingan dikhawatirkan meningkatkan risiko cedera, kelelahan, penurunan performa, dan pendeknya masa pemulihan.
Masalah tersebut semakin serius setelah format Piala Dunia Antarklub diperluas. Klub elite dapat memainkan liga domestik, piala domestik, kompetisi Eropa, turnamen antarklub dunia, dan pertandingan internasional dalam satu musim.
FIFPRO Europe menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap rencana FFE. Organisasi pemain itu menilai proposal tersebut dapat mengubah Piala Dunia dan kompetisi FIFA menjadi aset investasi bagi modal swasta.
Perubahan itu dikhawatirkan akan menggeser dasar pengambilan keputusan dalam sepak bola. Kesehatan pemain, integritas kompetisi, dan keseimbangan kalender bisa berada di bawah kepentingan pertumbuhan pendapatan.
UEFA Sebut FIFA Melewati Batas
UEFA menjadi pihak yang paling tegas menolak proposal FIFA. Badan sepak bola Eropa tersebut menilai penjualan sebagian hak komersial dan operasional telah melewati batas yang seharusnya tidak dilanggar organisasi olahraga.
Menurut UEFA, jiwa dan tata kelola sepak bola bukan aset yang dapat diperdagangkan. FIFA juga dinilai tidak memiliki hak moral untuk menjual warisan olahraga tanpa transparansi mengenai pihak yang memperoleh keuntungan.
UEFA semakin keras mengkritik tenggat yang diberikan kepada asosiasi anggota. Tawaran pembayaran langsung yang dapat ditarik apabila federasi tidak segera memberikan dukungan dianggap menunjukkan karakter sebenarnya dari proposal tersebut.
Setelah berbicara dengan berbagai pemangku kepentingan, UEFA mengklaim penolakan terhadap FFE terus membesar. Organisasi itu menuding FIFA berisiko menggunakan sepak bola untuk memperkaya pihak tertentu.
Javier Tebas hingga FA Inggris Ikut Bereaksi
Presiden La Liga Javier Tebas mengatakan rencana tersebut tidak terlihat sebagai reformasi tata kelola. Ia menilai pencampuran kepentingan politik, uang, kekuasaan, dan tindakan disiplin tanpa transparansi menunjukkan masalah kepemimpinan FIFA.
Tebas bahkan menyebut Infantino bukan jawaban bagi persoalan tata kelola organisasi. Menurutnya, kepemimpinan FIFA saat ini justru menjadi bagian dari permasalahan yang harus dibenahi.
Federasi Sepak Bola Inggris atau FA juga mengaku tidak mengetahui proposal tersebut sebelum diumumkan. Salah satu federasi paling berpengaruh di dunia itu menyatakan belum memperoleh informasi mendalam mengenai bentuk kesepakatan dan syarat yang melekat.
FA Inggris mengaku sangat khawatir terhadap minimnya proses tata kelola dalam penyusunan rencana. Mereka juga mempertanyakan substansi serta prinsip dasar penjualan sebagian hak FIFA kepada investor.
European Football Clubs yang mewakili klub-klub Eropa turut menyampaikan kekhawatiran serius. Mereka meminta dampak proposal terhadap kompetisi klub, kalender, dan hak pemain dibahas secara transparan.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, sebagaimana disebutkan dalam laporan sumber, ikut menyatakan bahwa sepak bola bukan milik investor. Ia juga menegaskan Piala Dunia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai sebuah produk komersial.
Komisioner Olahraga Eropa Glenn Micallef mengatakan Komisi Eropa akan mempelajari proposal tersebut secara saksama. Keterlibatan lembaga politik menunjukkan persoalan itu berpotensi berkembang melampaui perdebatan internal sepak bola.
Suporter Tolak Piala Dunia Dijadikan Produk
Penolakan juga datang dari kelompok pendukung. Nick Jones dari England Supporters Travel Club menggambarkan rencana itu sebagai gagasan yang sangat buruk dalam surat elektronik kepada anggota FA.
Bagi suporter, Piala Dunia memiliki nilai emosional yang tidak dapat dihitung hanya melalui pendapatan. Turnamen tersebut merupakan perayaan budaya, identitas nasional, dan sejarah antargenerasi.
Mereka khawatir harga tiket dapat terus meningkat apabila target keuntungan investor menjadi pertimbangan utama. Suporter juga berisiko kehilangan akses terhadap pertandingan akibat paket komersial yang semakin mahal.
Kekhawatiran serupa pernah muncul dalam rencana Liga Super Eropa. Proposal tersebut runtuh hanya dalam hitungan hari setelah mendapatkan perlawanan besar dari suporter, media, pemain, dan pemerintah.
Dukungan Muncul dari Federasi yang Membutuhkan Dana
Tidak semua pihak menolak rencana FIFA. Presiden Federasi Sepak Bola Republik Ceko David Trunda mengatakan dirinya melihat manfaat pragmatis dari kerja sama dengan Infantino dan timnya.
Trunda masih menunggu penjelasan lebih lengkap sebelum memberikan dukungan final. Namun, ia menilai rencana FIFA berpotensi membawa dampak positif bagi perkembangan sepak bola Ceko.
Dukungan serupa diperkirakan dapat muncul dari federasi kecil dan negara berkembang. Bantuan hingga 40 juta dolar AS merupakan jumlah besar untuk membangun stadion, pusat latihan, kompetisi usia muda, dan program akar rumput.
Banyak asosiasi anggota juga memandang Infantino lebih memperhatikan kebutuhan negara kecil dibandingkan kekuatan besar di Eropa. Basis dukungan tersebut menjadi modal politik penting ketika proposal dibawa ke tahap pemungutan suara.
Pertarungan akhirnya tidak hanya mempertemukan FIFA dan UEFA. Perdebatan juga memperlihatkan perbedaan kepentingan antara federasi kaya yang memiliki pendapatan besar dan negara berkembang yang membutuhkan bantuan finansial.
UEFA Pertimbangkan Boikot Kompetisi FIFA
UEFA dikabarkan akan bertemu dengan 55 asosiasi anggotanya untuk membahas langkah berikutnya. Salah satu pilihan yang disebut masuk dalam pembahasan adalah pemboikotan kompetisi yang berada di bawah kendali FIFA.
Boikot tersebut dapat mencakup Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub. Apabila tim nasional serta klub Eropa benar-benar menarik diri, proyek FFE akan menghadapi pukulan besar terhadap nilai komersialnya.
Piala Dunia tanpa Spanyol, Prancis, atau Inggris akan kehilangan daya tarik dan legitimasi di mata banyak penggemar. Situasi serupa berlaku bagi Piala Dunia Antarklub tanpa Real Madrid, Barcelona, Chelsea, atau Paris Saint-Germain.
Meski demikian, kemungkinan boikot benar-benar dilaksanakan dinilai tidak terlalu tinggi. Dampak olahraga, politik, dan finansial dari keputusan tersebut akan sangat besar bagi tim nasional, klub, pemain, serta suporter.
CONCACAF dan AFC juga berpotensi mempersiapkan langkah tandingan sendiri atau bekerja sama dengan UEFA. Namun, kritik keduanya lebih menyoroti tidak adanya konsultasi dan belum sekeras pernyataan badan sepak bola Eropa.
Nasib Proposal Ditentukan 211 Anggota FIFA
Masa depan FIFA Forward Enterprise akan bergantung pada suara asosiasi anggota. Proposal dapat ditolak apabila mayoritas federasi menganggap risiko terhadap tata kelola lebih besar daripada manfaat finansial yang ditawarkan.
Tekanan publik juga dapat membuat FIFA meninjau kembali rencana tersebut sebelum pemungutan suara. Penolakan suporter dan media pernah menggagalkan proyek besar seperti Liga Super Eropa meskipun didukung klub-klub kaya.
Sebaliknya, tawaran dana dalam jumlah besar dapat menarik dukungan dari banyak federasi. Negara dengan infrastruktur terbatas mungkin melihat investasi tersebut sebagai kesempatan yang sulit ditolak.
Perdebatan mengenai FFE pada akhirnya bukan sekadar persoalan valuasi 20 miliar dolar AS atau investasi 4,2 miliar dolar AS. Pertarungan itu menyentuh pertanyaan lebih besar mengenai siapa yang memiliki sepak bola dan untuk kepentingan siapa Piala Dunia diselenggarakan.
FIFA mengklaim model baru akan membantu pertumbuhan sepak bola di seluruh dunia. Para penentangnya khawatir Piala Dunia justru berubah menjadi aset Wall Street yang diarahkan untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya.



