Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Menggantikan Guardiola Disebut Mustahil, Enzo Maresca Justru Membuatnya Terlihat Mudah

Menggantikan Guardiola Disebut Mustahil, Enzo Maresca Justru Membuatnya Terlihat Mudah

  • September 15, 2026

Menggantikan Pep Guardiola seharusnya menjadi pekerjaan yang hampir mustahil bagi siapa pun, terlebih setelah satu dekade penuh trofi dan dominasi di Manchester City. Namun Enzo Maresca justru membuka era barunya dengan cara yang membuat tekanan sebesar itu sementara terlihat jauh lebih ringan.

Empat kemenangan dari empat pertandingan Liga Inggris membawa Manchester City berdiri sejajar dengan Arsenal di puncak awal klasemen, sementara kemenangan 2-0 atas Porto memperpanjang start sempurna di kompetisi utama. Lima kemenangan beruntun itu membuat Enzo Maresca cepat mendapat kepercayaan ruang ganti dan publik.

Kemenangan 1-0 atas Manchester United di Old Trafford menjadi ujian terbesar sejauh ini karena City harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-23. Phil Foden diusir setelah menendang Bruno Fernandes, tetapi tim tamu tetap tenang dan akhirnya menang melalui Erling Haaland.

Gol Haaland kemudian memicu kontroversi karena Pro Ref mengakui VAR keliru tidak mempertimbangkan pengaruh Enzo Fernández dari posisi offside. Meski keputusan itu menguntungkan City, kemampuan Enzo Maresca menjaga struktur tim ketika kekurangan pemain tetap menjadi bagian penting dari kemenangan derby.

BBC Sport menilai ketenangan menjadi ciri paling menonjol pada minggu-minggu pertama kepemimpinan Enzo Maresca, terutama ketika pertandingan mulai bergerak di luar rencana awal. Ia tidak terlihat tergesa-gesa melakukan perubahan, bahkan saat situasi menuntut keputusan cepat di kandang rival terbesar.

Pendekatan itu kontras dengan pengalaman Enzo Maresca setahun sebelumnya ketika Chelsea kehilangan Robert Sánchez hanya lima menit setelah pertandingan di Old Trafford dimulai. Saat itu ia melakukan dua pergantian dalam tujuh menit pertama, mengubah tim menjadi lebih defensif, tetapi tetap tidak mampu menyelamatkan hasil.

Pengalaman tersebut tampaknya membentuk respons Enzo Maresca pada derby kali ini karena ia tidak langsung mengubah seluruh struktur setelah kartu merah Foden. Ia lebih dulu membaca arah pertandingan, memindahkan Rayan Cherki ke kanan, kemudian memasukkan Iliman Ndiaye saat jeda sebagai penyesuaian terukur.

Keputusan itu terlihat sederhana, tetapi justru menunjukkan perkembangan seorang pelatih yang belajar dari kepanikan masa lalu dan tidak mengulang respons serupa. Dalam pertandingan berintensitas tinggi, ketenangan Enzo Maresca memberi pesan kepada pemain bahwa situasi sulit tidak selalu membutuhkan perubahan ekstrem.

Enzo Maresca bahkan memilih humor setelah pertandingan ketika ditanya mengenai Haaland, mengatakan, “Happy Erling, happy life,” sambil tersenyum kepada wartawan. Kalimat ringan tersebut menjadi simbol suasana baru di Manchester City, sebuah tim yang sebelumnya terbiasa dengan gestur teknis dan tekanan emosional Guardiola.

Perbedaannya bukan berarti Enzo Maresca sedang membuang warisan Guardiola, karena fondasi permainan Manchester City tetap terlihat jelas dalam penguasaan ruang dan keberanian memainkan bola. Kapten baru Ruben Dias mengatakan banyak prinsip masih sama, meski detail pressing dan bertahan sekarang membawa identitas pelatih Italia tersebut.

Dias juga menekankan bahwa perubahan terlihat dalam sesi latihan dan sejumlah detail permainan, tetapi perilaku dasar tim tetap memiliki kesinambungan dengan periode sebelumnya. Bagi Manchester City, transisi semacam ini jauh lebih aman dibanding mengganti pelatih sekaligus membongkar filosofi yang sudah dibangun selama sepuluh tahun.

Hubungan Enzo Maresca dengan struktur klub membantu proses tersebut karena ia bukan sosok asing yang datang dari luar untuk mempelajari semuanya dari awal. Ia pernah menangani Elite Development Squad City, kemudian kembali menjadi bagian staf Guardiola pada musim treble 2022/23.

Manchester City juga sudah lama memasukkan Enzo Maresca dalam perencanaan suksesi, bahkan mengakui pernah melakukan pembicaraan rahasia dengannya pada akhir 2025. Setelah meninggalkan Chelsea, pria Italia itu akhirnya kembali ke Etihad dan menandatangani kontrak tiga tahun sampai musim panas 2029.

Konteks itu penting karena keberhasilan awal Enzo Maresca bukan sekadar hasil keberuntungan dari skuad yang diwariskan dalam kondisi sempurna. City justru mengalami perubahan besar pada musim panas setelah Bernardo Silva, John Stones, Rodri, dan Nathan Aké meninggalkan klub untuk tantangan baru.

Sebagai gantinya, Manchester City merekrut sejumlah pemain penting seperti Enzo Fernández, Elliot Anderson, dan Ayyoub Bouaddi untuk memperbarui lini tengah. Reuters melaporkan pembangunan ulang skuad mencapai sekitar £450 juta, angka yang sekaligus memperbesar tuntutan agar Enzo Maresca langsung menghasilkan kemenangan.

Maresca sendiri sejak awal tidak menghindari kenyataan bahwa menggantikan Guardiola akan selalu memunculkan perbandingan, terutama setelah pelatih Spanyol itu memenangkan 20 trofi besar selama sepuluh tahun. Guardiola juga meninggalkan struktur sepak bola yang sangat spesifik, sehingga penerusnya mudah terlihat gagal jika perubahan berlangsung terlalu drastis.

Perbandingan paling menakutkan tentu mengarah pada David Moyes ketika menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United pada 2013 dan hanya bertahan sekitar sepuluh bulan. Enzo Maresca bahkan pernah menyebut Ferguson dan Arsène Wenger sebagai contoh bagaimana klub besar dapat kesulitan setelah era pelatih panjang berakhir.

Namun ketika ditanya mengenai bayang-bayang Guardiola, Enzo Maresca justru mengatakan perbandingan tersebut tidak memberinya tekanan dan memilih memandang pekerjaan ini sebagai tantangan sekaligus privilege. Sikap itu penting karena pelatih yang terlalu sibuk melawan masa lalu biasanya kehilangan energi untuk membangun identitas sendiri.

Enzo Maresca Tak Berusaha Menjadi Guardiola Kedua

Perbedaan Enzo Maresca dan Guardiola bahkan terlihat dari bahasa tubuh di pinggir lapangan, sesuatu yang menjadi perhatian BBC Sport pada awal musim ini. Guardiola terkenal ekspresif, sedangkan Maresca lebih sering berdiri dengan tangan terlipat dan menjaga ekspresi ketika pertandingan sedang panas.

Perubahan lain muncul di lapangan latihan, tempat Enzo Maresca memperkenalkan musik house keras yang ia gambarkan dengan bunyi “boom, boom, boom”. Tujuannya sederhana, yakni membuat pemain merasa lebih bahagia ketika bekerja dan menciptakan lingkungan latihan yang tidak selalu dibangun melalui ketegangan.

Pendekatan itu mungkin tampak sepele, tetapi dalam tim yang baru kehilangan pelatih paling sukses dalam sejarah klub, suasana ruang ganti menjadi variabel besar. Enzo Maresca tampaknya memahami bahwa transisi psikologis sama pentingnya dengan mengajarkan pola pressing atau mekanisme membangun serangan.

Enzo Maresca juga tidak datang dengan ambisi menjadi salinan Guardiola karena justru hal tersebut berpotensi memperbesar kegagalan sejak hari pertama. Guardiola sendiri, ketika ditanya mengenai nasihat untuk penerusnya pada Mei, hanya mengatakan satu hal sederhana: penerus Manchester City harus menjadi dirinya sendiri.

Enzo Maresca sejauh ini menjalankan nasihat tersebut dengan mempertahankan kerangka yang sudah bekerja, tetapi menambahkan detail personal pada latihan, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Strategi itu memungkinkan Manchester City berubah tanpa terlihat seperti tim yang sedang mengalami revolusi setelah ditinggal tokoh terpentingnya.

Enzo Maresca Belajar dari Derby Manchester

Kemenangan derby memberikan contoh paling konkret karena City tidak kehilangan keberanian setelah Foden dikeluarkan, meski Manchester United dua kali membentur tiang melalui Marcus Rashford dan Kobbie Mainoo. Gianluigi Donnarumma juga membuat penyelamatan penting pada fase akhir untuk mempertahankan kemenangan 1-0.

Haaland menjadi penentu pada menit ke-60, meneruskan umpan silang Josko Gvardiol untuk mencetak gol yang kemudian disahkan VAR sebelum diakui keliru oleh badan perwasitan. Dua hari kemudian, VAR Matt Donohue dan asistennya Blake Antrobus dicoret dari tugas Liga Inggris pada akhir pekan berikutnya.

Kontroversi tersebut tidak bisa dihapus dari cerita pertandingan, tetapi mengecilkan kemenangan City hanya menjadi produk kesalahan wasit juga terlalu sederhana. Enzo Maresca harus menjaga sembilan pemain lapangan tetap kompak selama lebih dari satu jam menghadapi lawan yang bermain di kandang sendiri.

City juga tidak sepenuhnya berhenti menyerang, sebuah pilihan yang membuat Manchester United tidak pernah benar-benar bebas mengirim semua pemain ke depan. Kehadiran Haaland terus memberikan ancaman transisi, sehingga keberanian mempertahankan jalan keluar menyerang menjadi bagian penting dari strategi Enzo Maresca.

Kemenangan itu membawa City mengoleksi 12 poin dari empat pertandingan liga dan menempati posisi kedua hanya karena selisih gol dari Arsenal. Setelah sebelumnya menang 2-0 di Porto lewat dua gol Haaland, start Enzo Maresca kini terlihat jauh lebih kokoh dibanding kesan setelah Community Shield.

Pada Community Shield, Manchester City dihantam Arsenal 0-3 dan sempat memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan era Enzo Maresca tersebut. Namun lima kemenangan berikutnya membuat kekalahan itu lebih terlihat sebagai alarm awal yang mempercepat adaptasi, bukan pertanda bahwa transisi akan berjalan kacau.

Tantangan Enzo Maresca Baru Dimulai

Meski start-nya nyaris sempurna, pekerjaan Enzo Maresca sebenarnya baru memasuki tahap pertama karena lawan akan semakin memahami pola permainan City. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan fleksibilitas ketika cedera, rotasi, kelelahan, dan tekanan kompetisi mulai menumpuk sepanjang musim.

Ujian terdekat datang saat Manchester City menjamu Norwich City pada putaran ketiga Carabao Cup, Kamis malam waktu Inggris atau Jumat dini hari WIB. Tiga hari kemudian Sunderland datang ke Etihad dalam Liga Inggris, memberi Enzo Maresca kesempatan menguji kedalaman skuad dan melakukan rotasi.

Dua pertandingan tersebut terlihat lebih ringan dibanding derby, tetapi justru jenis laga seperti ini sering menguji konsistensi tim penantang gelar. Enzo Maresca perlu memastikan pemain cadangan memahami struktur permainan sebaik pemain utama, terutama setelah investasi besar membentuk skuad yang jauh lebih dalam.

Haaland tetap menjadi pusat ancaman setelah membuka Liga Champions dengan dua gol di Porto dan kembali menentukan derby Manchester. Namun ketergantungan berlebihan terhadap satu pemain akan menjadi risiko, sehingga kemampuan Enzo Maresca menyebarkan kontribusi gol menjadi pekerjaan penting dalam beberapa bulan berikutnya.

Pada akhirnya, menggantikan Guardiola tidak pernah benar-benar menjadi pekerjaan mudah hanya karena lima pertandingan pertama menghasilkan kemenangan. Yang membuat start Enzo Maresca menarik justru caranya menerima warisan besar itu tanpa terlihat terburu-buru membuktikan bahwa segala sesuatu harus berubah.

Ia mempertahankan fondasi, mengubah detail, belajar dari kesalahan lama, dan menunjukkan ketenangan ketika derby berubah menjadi pertandingan yang tidak terduga. Jika pola tersebut bertahan, pekerjaan yang awalnya dianggap hampir mustahil mungkin tidak menjadi mudah, tetapi setidaknya Manchester City sudah menemukan arah yang meyakinkan.

Preview Tottenham vs Aston Villa

Preview Tottenham vs Aston Villa: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

17 Sep 2026
Preview Brentford vs Chelsea

Preview Brentford vs Chelsea: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

17 Sep 2026
Preview AS Roma vs Inter Milan

Preview AS Roma vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

17 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.