Piala Dunia 2026 baru menyelesaikan rangkaian pertandingan pertama fase grup, namun sejumlah pemain sudah berhasil mencuri perhatian melalui performa luar biasa yang memberikan dampak besar bagi tim masing-masing.
Data statistik terbaru yang dirilis FIFA melalui FIFA Power Rankings memperlihatkan siapa saja pemain paling berpengaruh dalam aspek menyerang, kreativitas, dan bertahan sepanjang pekan pembuka turnamen.
Pemeringkatan ini tidak hanya menghitung jumlah gol atau assist yang tercipta selama pertandingan berlangsung, melainkan juga mengukur kontribusi pemain dalam membangun serangan, menciptakan peluang, serta menghentikan ancaman lawan. Pendekatan berbasis data tersebut memberikan gambaran lebih lengkap mengenai siapa pemain yang benar-benar menentukan jalannya pertandingan di Piala Dunia 2026.
Pada edisi pertama FIFA Power Rankings setelah laga pembuka fase grup selesai dimainkan, nama-nama besar seperti Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Mohamed Salah kembali masuk daftar pemain terbaik. Namun di sisi lain, muncul pula sejumlah pemain yang mungkin tidak banyak diperbincangkan sebelumnya, tetapi mampu menghasilkan kontribusi signifikan untuk negaranya.
Keberadaan pemain-pemain kejutan ini menunjukkan bahwa Piala Dunia selalu menghadirkan cerita baru dalam setiap penyelenggaraannya. Selain para superstar yang sudah memiliki reputasi mendunia, turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut juga menjadi panggung bagi sosok-sosok yang mampu melesat melalui satu penampilan gemilang.
Messi Rajai Kategori Penyerang
Tidak banyak yang terkejut ketika nama Lionel Messi berada di puncak kategori penyerangan setelah pertandingan pertama fase grup. Kapten Argentina itu tampil luar biasa saat membawa timnya mengalahkan Aljazair dengan skor meyakinkan 3-0 melalui torehan tiga gol sekaligus.
Penampilan Messi tidak hanya diukur dari jumlah gol yang ia cetak selama pertandingan berlangsung. Statistik FIFA menunjukkan bahwa pemain berusia 39 tahun tersebut terlibat dalam 60 persen total percobaan tembakan Argentina dan menyumbangkan seluruh gol yang berhasil dicetak La Albiceleste.
Data lanjutan juga memperlihatkan betapa dominannya Messi dalam mengendalikan ritme serangan Argentina sepanjang pertandingan. Seluruh tembakan tepat sasaran Argentina berasal dari dirinya, sementara tiga gol yang tercipta berasal dari peluang dengan nilai expected goals atau xG sebesar 1,58.
Efektivitas penyelesaian akhir tersebut menjadi bukti bahwa Messi masih mampu menjadi pembeda meski telah memasuki fase akhir karier profesionalnya. Ketajaman yang ia tunjukkan membuat juara bertahan langsung mengirim pesan kuat kepada para pesaingnya di turnamen ini.
Kontribusi Messi tidak berhenti pada proses penyelesaian peluang semata. Bintang Inter Miami itu tercatat menerima bola sebanyak 23 kali di area antara lini tengah dan lini pertahanan Aljazair serta berhasil melakukan 12 line breaks yang membantu Argentina mengubah penguasaan bola menjadi situasi berbahaya.
Di bawah Messi terdapat nama yang cukup mengejutkan, yakni winger Selandia Baru Elijah Just. Pemain sayap tersebut menempati posisi kedua setelah mencetak dua gol dari dua percobaan tembakan terbuka ketika membantu timnya menahan imbang Iran dengan skor 2-2.
Meski Iran menciptakan lebih banyak peluang dan memiliki nilai expected goals lebih tinggi dibandingkan Selandia Baru, efektivitas penyelesaian akhir Elijah Just menjadi faktor utama yang membuat tim berjuluk All Whites mampu mengamankan satu poin penting. Ketajamannya menjadi salah satu kejutan terbesar pada pekan pertama fase grup.
Posisi berikutnya ditempati penyerang Prancis Kylian Mbappe dan gelandang Swedia Yasin Ayari yang sama-sama mencetak dua gol untuk negaranya masing-masing. Kedua pemain tersebut memperlihatkan kemampuan penyelesaian akhir yang sangat efektif sepanjang pertandingan pembuka.
Mbappe tampil dominan saat Prancis mengalahkan Senegal dengan skor 3-1 melalui kombinasi kecepatan, pergerakan tanpa bola, dan akurasi penyelesaian akhir. Seluruh empat tembakan terbuka yang dilepaskannya mengarah ke gawang dan menghasilkan dua gol penting bagi Les Bleus.
Sementara itu, Ayari justru mencatat salah satu performa penyelesaian peluang paling efisien pada putaran pertama fase grup. Berdasarkan data FIFA, pemain Swedia tersebut mampu melampaui kualitas peluang yang diterimanya hingga menghasilkan keunggulan 1,86 gol dibanding ekspektasi statistik.
Rezaeian Jadi Raja Kreativitas
Kategori kreativitas dalam FIFA Power Rankings memberikan penghargaan kepada pemain yang paling berperan dalam mengembangkan serangan dan menciptakan peluang. Setelah putaran pertama fase grup berakhir, posisi teratas kategori ini ditempati bek kanan Iran, Ramin Rezaeian.
Pemain berpengalaman Iran tersebut tampil luar biasa ketika menghadapi Selandia Baru dalam pertandingan yang berakhir imbang 2-2. Dari sektor kanan lapangan, Rezaeian menjadi motor utama yang menghubungkan lini belakang dengan area serangan Team Melli.
Statistik FIFA mencatat Rezaeian berhasil membukukan 16 progressive passes sepanjang pertandingan. Selain itu, ia juga melakukan 13 line breaks yang sukses menembus struktur lini tengah serta pertahanan Selandia Baru.
Kontribusinya semakin lengkap karena tidak hanya berperan sebagai kreator serangan. Rezaeian juga mencetak gol penyama kedudukan pertama Iran dan terlibat langsung dalam proses terciptanya gol kedua yang memastikan negaranya terhindar dari kekalahan.
Posisi kedua kategori kreativitas ditempati pemain sayap Prancis Michael Olise yang tampil mengesankan saat menghadapi Senegal. Pemain muda yang kini menjadi salah satu andalan Prancis tersebut memperlihatkan kualitas distribusi bola dan visi permainan yang sangat matang.
Olise tercatat melakukan 19 line breaks sepanjang pertandingan, termasuk 17 di antaranya melalui umpan-umpan progresif yang membuka ruang bagi rekan setimnya. Ia juga terlibat dalam sembilan rangkaian serangan yang berakhir dengan percobaan tembakan ke gawang lawan.
Tidak hanya itu, Olise menyumbangkan satu assist dan ikut berperan dalam dua dari tiga gol yang dicetak Prancis. Performa tersebut memperkuat statusnya sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan di sepak bola Eropa saat ini.
Kelompok pemain kreatif terbaik kemudian dilengkapi oleh Lee Kangin dari Korea Selatan, Julio Enciso dari Paraguay, dan Mohamed Salah dari Mesir. Ketiganya menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghubungkan permainan sekaligus menciptakan peluang bagi tim masing-masing.
Lee Kangin mencatat salah satu penampilan paling bersih pada pertandingan pembuka setelah berhasil menyelesaikan seluruh 38 umpan yang ia lepaskan saat menghadapi Republik Ceko. Selain akurasi sempurna tersebut, ia juga menyumbangkan satu assist penting bagi Korea Selatan.
Julio Enciso tetap menjadi sumber utama ancaman Paraguay meskipun timnya hanya menguasai bola kurang dari 30 persen ketika menghadapi Amerika Serikat. Kemampuannya membawa bola dan menciptakan peluang membuat Paraguay tetap kompetitif sepanjang pertandingan.
Sementara itu, Mohamed Salah kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin serangan Mesir. Pergerakan cerdas serta distribusi umpan akurat yang dimilikinya membantu Mesir menciptakan sejumlah peluang berbahaya, termasuk assist untuk gol yang dicetak Emam Ashour ke gawang Belgia.
Cornelius Pimpin Barisan Bertahan
Jika kategori menyerang dan kreativitas sering menjadi sorotan utama, FIFA Power Rankings juga memberikan perhatian khusus kepada para pemain bertahan yang berperan penting dalam menentukan hasil pertandingan. Setelah laga pertama fase grup, posisi teratas kategori bertahan menjadi milik Derek Cornelius dari Kanada.
Bek tengah Kanada tersebut tampil luar biasa ketika menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Dalam pertandingan itu, Cornelius berhasil mencatatkan 17 penguasaan bola kembali atau possession regains, jumlah tertinggi yang berhasil dibukukan pemain mana pun pada putaran pertama fase grup.
Selain itu, ia juga mencatatkan 13 sapuan, empat blok, dan empat tekel sukses yang membantu Kanada meredam serangan lawan. Dominasi Cornelius semakin terlihat melalui keberhasilannya memenangkan delapan duel udara sepanjang pertandingan berlangsung.
Penampilan gemilang Cornelius membuat lini pertahanan Kanada tampil sangat solid dalam laga pembuka mereka. Keberadaannya menjadi fondasi penting yang memungkinkan Kanada mengontrol jalannya pertandingan sekaligus menjaga stabilitas permainan tim.
Di pertandingan yang sama, bek Bosnia dan Herzegovina Nikola Katic juga menghasilkan statistik bertahan yang mengesankan. Ia mencatatkan 12 sapuan, lima blok, tujuh tekel, serta memenangkan 11 duel udara dalam situasi tekanan tinggi.
Katic bahkan membukukan 11 possession regains dan melakukan 20 aksi defensif di area pertahanan sendiri. Angka tersebut menggambarkan betapa besarnya tekanan yang harus dihadapi Bosnia sepanjang pertandingan melawan Kanada.
Kapten Amerika Serikat Tyler Adams juga masuk dalam kelompok pemain bertahan terbaik setelah membantu timnya membatasi Paraguay hanya menghasilkan nilai expected goals sebesar 0,60. Peran Adams di lini tengah menjadi kunci keberhasilan Amerika Serikat menjaga keseimbangan permainan.
Sementara itu, bek Cabo Verde Sidny Lopes Cabral menjadi salah satu alasan utama keberhasilan negaranya mencatat clean sheet saat menghadapi Spanyol. Ia membukukan lima blok, lima tekel, serta 10 possession regains yang membuat serangan Spanyol berkali-kali menemui jalan buntu.
Nama terakhir dalam daftar pemain bertahan terbaik adalah gelandang Austria Xavier Schlager. Kehadirannya membuktikan bahwa kontribusi defensif tidak hanya berasal dari para pemain belakang, melainkan juga dari gelandang yang bekerja keras memutus aliran serangan lawan.
Saat menghadapi Yordania, Schlager mencatatkan 11 possession regains dan tujuh aksi bertahan di area sepertiga akhir lapangan. Kinerjanya membantu Austria mengambil alih kendali pertandingan sebelum akhirnya meraih kemenangan penting pada laga pembuka fase grup.
FIFA Power Rankings pekan pertama memperlihatkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para pencetak gol, tetapi juga para kreator peluang dan pemain bertahan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Jika performa ini mampu dipertahankan, persaingan menuju penghargaan individu maupun gelar juara dipastikan akan semakin menarik sepanjang turnamen berlangsung.



