Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Juan Roman Riquelme, Pria yang Melampaui Maradona sebagai Legenda Boca Juniors

Juan Roman Riquelme, Pria yang Melampaui Maradona sebagai Legenda Boca Juniors

  • Oktober 5, 2026

Ada sesuatu yang tidak biasa terjadi ketika Lionel Messi memasuki La Bombonera pada Juni 2023, beberapa bulan setelah membawa Argentina menjadi juara dunia di Qatar. Sekitar 57.000 penonton memenuhi stadion untuk sebuah penghormatan kepada sosok nomor 10 lainnya. Nama yang mereka elu-elukan bukan Messi dan bukan pula Diego Maradona, figur yang selama puluhan tahun dianggap hampir mustahil disaingi dalam sepak bola Argentina. Suporter Boca Juniors justru menyanyikan Juan Roman Riquelme sebagai sosok terbesar mereka.

“Di La Boca, yang terbesar adalah Roman,” menjadi pesan yang bergema dari tribune ketika pertandingan penghormatan bagi Riquelme digelar delapan tahun setelah pensiunnya. Tiket pertandingan itu bahkan habis hanya dalam hitungan menit.

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa posisi Juan Roman Riquelme dalam sejarah Boca Juniors sulit diukur hanya menggunakan trofi, gol, atau jumlah penampilan. Hubungannya dengan Boca berkembang menjadi sesuatu yang menyerupai identitas kultural antara seorang pemain dan sebuah klub.

Riquelme merupakan seniman lapangan yang bermain menggunakan tempo berbeda dibandingkan kebanyakan gelandang pada zamannya, ketika sepak bola mulai bergerak menuju kecepatan dan pressing. Ia justru terkenal karena kemampuan memperlambat permainan sampai ruang yang diinginkannya terbuka.

Kariernya juga jauh dari perjalanan sempurna karena Juan Roman Riquelme berulang kali bersitegang dengan pelatih, menolak berkompromi terhadap prinsip bermainnya, dan menghadapi konflik personal. Semua kontroversi tersebut justru membantu membentuk citranya sebagai simbol sepak bola romantis yang terakhir.

Juan Roman Riquelme dan Takdir yang Dimulai pada 1978

Juan Roman Riquelme lahir pada 24 Juni 1978 di Don Torcuato, hanya sehari sebelum Argentina mengalahkan Belanda setelah perpanjangan waktu di Estadio Monumental. Kemenangan tersebut memberi Argentina gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah mereka.

Riquelme tumbuh dalam keluarga kelas pekerja sebagai anak tertua dari 11 bersaudara laki-laki, dengan karakter sangat pemalu dan tertutup. Julukan “El Mudo” atau Si Bisu kemudian melekat karena ia lebih banyak mengekspresikan dirinya melalui bola.

Bakat teknisnya membawa Juan Roman Riquelme menuju akademi Argentinos Juniors, tempat Diego Maradona juga pernah berkembang sebelum menjadi legenda dunia. River Plate kemudian tertarik merekrutnya, tetapi kecintaannya terhadap Boca akhirnya menentukan pilihan karier sang gelandang.

Kesempatan besar datang pada November 1996 ketika Carlos Bilardo memberikan debut kepada Riquelme yang baru berusia 18 tahun menghadapi Union de Santa Fe. Bilardo meminta pemain mudanya mencari ruang karena perhatian lawan diperkirakan tertuju kepada Diego Latorre.

Strategi itu bekerja sempurna karena Riquelme terus menerima bola di ruang kosong dan mulai menunjukkan kemampuan mengubah arah permainan secara tiba-tiba. Satu assist dan penghargaan pemain terbaik mengiringi kemenangan Boca 2-0 serta standing ovation pertamanya di La Bombonera.

Karier Juan Roman Riquelme kemudian beririsan dengan Maradona ketika keduanya berada dalam skuad Boca bersama Claudio Caniggia dan Sergio Martinez. Pada Agustus 1997, Maradona memakai nomor 10 sementara Riquelme mengenakan nomor sembilan saat Boca mengalahkan Argentinos Juniors 4-2.

Momen pergantian generasi paling simbolis terjadi beberapa bulan kemudian dalam Superclasico melawan River Plate ketika Boca tertinggal 0-1 pada babak pertama. Hector Veira menarik Maradona dan memasukkan Riquelme sebelum Boca membalikkan pertandingan menjadi kemenangan 2-1.

Beberapa hari setelah pertandingan tersebut, Maradona mengakhiri kariernya, sedangkan Riquelme perlahan mengambil tempat sentral dalam identitas Boca berikutnya. Maradona sendiri pernah memberikan pengakuan besar terhadap pemain muda itu dengan mengatakan bahwa dirinya melihat dirinya sendiri dalam Riquelme.

Namun hubungan dua ikon tersebut kemudian berubah menjadi rivalitas panjang yang melampaui persoalan sepak bola di dalam lapangan. Ketegangan itu memperlihatkan bagaimana Juan Roman Riquelme memilih mempertahankan pendiriannya sekalipun harus berhadapan dengan figur terbesar Argentina.

Ketika Maradona menjadi pelatih Argentina pada 2008, Riquelme memutuskan mundur dari tim nasional karena menganggap keduanya memiliki prinsip moral berbeda. Perselisihan kembali muncul ketika mereka mendukung kubu berbeda dalam perebutan kekuasaan di Boca bertahun-tahun kemudian.

Maradona bahkan menuduh Riquelme menjual dirinya kepada penawar tertinggi ketika mantan playmaker tersebut bergabung dengan kubu Jorge Amor Ameal. Kubu Riquelme akhirnya menang dan ia mendapatkan posisi wakil presiden Boca, tetapi ketegangan mereka belum benar-benar mereda.

Pada Maret 2020, ketika kembali ke La Bombonera sebagai pelatih Gimnasia, Maradona kembali menyindir keputusan lama Riquelme meninggalkan tim nasional. Konflik tersebut menjadi salah satu lapisan rumit dalam hubungan dua nomor 10 paling berpengaruh dalam sejarah Boca.

Juan Roman Riquelme dan Seni Membekukan Waktu

Perjalanan menuju status legenda sesungguhnya meningkat setelah Carlos Bianchi menjadi pelatih Boca pada 1998 dan memilih membangun permainan di sekitar Juan Roman Riquelme. Keputusan tersebut menghasilkan kombinasi pelatih-pemain yang kemudian mengubah sejarah modern klub Argentina itu.

Bianchi memberikan kebebasan yang diperlukan Riquelme, sesuatu yang tidak selalu didapatkan sang playmaker sepanjang kariernya di klub maupun tim nasional. Hubungan keduanya berkembang sangat dekat dan kemudian menjadi fondasi periode emas Boca pada pergantian milenium.

Keunggulan Juan Roman Riquelme terletak pada konsep yang dikenal sebagai “la pausa”, kemampuan menunda keputusan selama sepersekian detik sampai sebuah jalur operan terbuka. Saat pemain lain mempercepat pertandingan, Riquelme justru membuat lawan bergerak mengikuti iramanya sendiri.

Ia melindungi bola menggunakan tubuh, menggerakkan pinggul, mengganti kaki penguasaan, lalu melepaskan umpan tepat ketika pertahanan mulai kehilangan bentuk. Jorge Valdano menggambarkan kecerdasan Riquelme seolah menyimpan memori panjang mengenai sejarah permainan sepak bola.

Kemampuan tersebut juga menciptakan hubungan produktif dengan Martin Palermo karena striker Boca itu mengetahui bahwa pergerakan di belakang bek hampir selalu ditemukan Riquelme. Latihan berulang membuat keduanya memiliki pemahaman yang kemudian menjadi senjata utama Boca.

Di bawah Bianchi, Boca menguasai kompetisi domestik sebelum menaklukkan Amerika Selatan dan memenangi Copa Libertadores 2000. Situs resmi Boca mencatat Juan Roman Riquelme sebagai bagian skuad juara yang mengalahkan Palmeiras melalui adu penalti di Morumbi.

Salah satu gambaran terbaik kejeniusannya muncul dalam perempat final Copa Libertadores melawan River ketika Juan Roman Riquelme mempermalukan Mario Yepes menggunakan nutmeg ikonik. Boca akhirnya menang 3-0 dalam malam yang semakin mengukuhkan mitologi sang playmaker.

Namun panggung yang benar-benar mengubah persepsi dunia datang ketika Boca menghadapi Real Madrid pada Piala Interkontinental 2000 di Tokyo. Madrid membawa pemain seperti Iker Casillas, Roberto Carlos, Claude Makelele, Luis Figo, dan Raul ke pertandingan tersebut.

Palermo membawa Boca unggul setelah tiga menit sebelum Juan Roman Riquelme menciptakan salah satu operan paling terkenal dalam kariernya. Dari wilayah sendiri, ia mengirim umpan panjang menuju Palermo yang menghasilkan gol kedua hanya enam menit setelah kick-off.

Selama sisa pertandingan, Riquelme mempertahankan bola dan berulang kali lolos dari tekanan Makelele menggunakan kontrol tubuh serta “la pausa” miliknya. Boca bertahan dengan kemenangan 2-1 dan Riquelme memperoleh pengakuan sebagai pemain yang mampu mendominasi juara Eropa.

Barcelona Gagal Menemukan Tempat untuk Riquelme

Kepergian Juan Roman Riquelme menuju Eropa pada 2002 sebenarnya tidak hanya disebabkan ambisi sepak bola, tetapi juga persoalan serius keluarganya. Adik laki-lakinya yang berusia 17 tahun diculik dan penculik meminta tebusan sebesar 300.000 dolar AS.

Riquelme bahkan harus absen menghadapi Huracan untuk terlibat dalam proses negosiasi pembebasan adiknya sebelum akhirnya memutuskan meninggalkan Argentina. Sang pemain kemudian menjelaskan bahwa situasi tersebut ikut mendorongnya menerima kesempatan berkarier di Eropa.

Masalah baru segera muncul karena filosofi Louis van Gaal di Barcelona bertolak belakang dengan karakter permainan Juan Roman Riquelme. Van Gaal menginginkan disiplin posisi, tekanan tinggi, serta kontribusi kolektif tanpa bola yang tidak pernah menjadi kekuatan utama Riquelme.

Riquelme mengenang Van Gaal pernah menyebut dirinya pemain terbaik dunia ketika tim menguasai bola, tetapi seperti membuat tim kekurangan satu pemain ketika kehilangan penguasaan. Meski hubungannya sulit, Riquelme tetap mengakui kualitas sesi latihan pelatih Belanda tersebut.

UEFA mencatat Riquelme hanya menjadi starter sebanyak 14 kali bersama Barcelona setelah kepindahannya senilai sekitar 11 juta euro pada Juli 2002. Kondisi itu kemudian membuka jalan bagi Villarreal untuk menawarkan lingkungan yang jauh lebih sesuai.

Di Villarreal, Juan Roman Riquelme akhirnya menemukan Manuel Pellegrini, pelatih yang memahami bahwa kreativitasnya membutuhkan struktur khusus di sekelilingnya. Pellegrini memberikan tanggung jawab besar dan menjadikan bola melewati Riquelme sebagai pusat pembangunan serangan Kapal Selam Kuning.

Hasilnya luar biasa karena Villarreal berkembang dari klub Spanyol yang relatif sederhana menjadi salah satu kekuatan mengejutkan sepak bola Eropa. UEFA mencatat Riquelme mencetak 15 gol ketika Villarreal finis ketiga di La Liga musim 2004/05.

Semusim kemudian mereka mencapai semifinal Liga Champions untuk pertama kalinya setelah menyingkirkan Inter Milan dalam perempat final. UEFA menggambarkan Juan Roman Riquelme sebagai sosok yang mengendalikan sebagian besar babak kedua sekaligus memberikan umpan untuk gol penentu Rodolfo Arruabarrena.

Dongeng tersebut berakhir menyakitkan menghadapi Arsenal karena Villarreal tertinggal agregat 0-1 ketika mendapatkan penalti menjelang berakhirnya leg kedua. Riquelme maju sebagai eksekutor, tetapi Jens Lehmann menepis tendangannya dan mengakhiri harapan Villarreal mencapai final pertama mereka.

Kegagalan itu tidak menghapus pengaruhnya karena Villarreal sebelumnya bahkan belum pernah mengikuti Liga Champions sebelum perjalanan bersejarah tersebut. Riquelme membuktikan seorang pemain dengan karakter taktis tidak konvensional tetap bisa menjadi pusat tim kompetitif di level tertinggi Eropa.

Piala Dunia 2006 dan Pemberontakan Seorang Nomor 10

Juan Roman Riquelme juga menemukan lingkungan ideal bersama Jose Pekerman dalam tim nasional Argentina setelah sebelumnya tidak dipilih Marcelo Bielsa untuk Piala Dunia 2002. Pekerman melihat kecerdasan dan visi sebagai kemampuan yang tidak bisa diciptakan hanya melalui latihan fisik.

Pada Piala Dunia 2006, Riquelme menjadi pemain inti dalam tim Argentina berisi Roberto Ayala, Javier Mascherano, Hernan Crespo, Carlos Tevez, Pablo Aimar, dan Lionel Messi. FIFA mencatat Riquelme dan Messi kemudian bermain bersama sebanyak 27 pertandingan untuk Argentina.

Peran keduanya berbeda karena Juan Roman Riquelme menjadi pusat utama permainan, sementara Messi yang masih muda berfungsi sebagai pemain eksplosif dari bangku cadangan. Kombinasi tersebut menawarkan gambaran singkat dua generasi nomor 10 Argentina berada dalam satu kesebelasan.

Argentina memainkan beberapa sepak bola terbaik di turnamen tersebut sebelum disingkirkan Jerman melalui adu penalti pada perempat final. Sesudah kembali ke Villarreal, hubungan Riquelme dengan Pellegrini juga memburuk karena perbedaan pandangan mengenai hak istimewa dan disiplin tim.

Hubungan yang berakhir tersebut memperlihatkan paradoks terbesar Juan Roman Riquelme sepanjang kariernya, yakni kualitas luar biasa sekaligus kesulitan menyesuaikan diri dengan struktur tertentu. Ia mampu mengubah sebuah tim apabila diberi kebebasan, tetapi jarang bersedia mengorbankan prinsip bermainnya.

Pulang ke Boca dan Menjadi Abadi

Pada awal 2007, Juan Roman Riquelme kembali ke Boca melalui kesepakatan pinjaman ketika kariernya di Eropa memasuki titik ketidakpastian. Kepulangan tersebut justru melahirkan salah satu penampilan individual paling dominan dalam sejarah modern Copa Libertadores.

Bersama pelatih Miguel Angel Russo, Riquelme menjadi pusat permainan dan mencetak delapan gol sepanjang kompetisi, termasuk tiga gol dalam dua leg final menghadapi Gremio. Boca menghancurkan klub Brasil tersebut dengan agregat 5-0 untuk meraih Copa Libertadores keenam.

Sejarah resmi Boca juga menempatkan Juan Roman Riquelme, Ever Banega, dan Rodrigo Palacio sebagai figur penting keberhasilan 2007 tersebut. Gelar itu menjadi bukti bahwa sang playmaker kembali dalam kondisi matang setelah empat setengah tahun menjalani petualangan Eropa.

Riquelme kemudian kembali secara permanen dan menghabiskan tujuh tahun berikutnya untuk memperkuat hubungan emosionalnya dengan Boca. Ketika meninggalkan klub pada 2014, ia bahkan memilih turun kasta daripada harus suatu hari datang ke La Bombonera sebagai lawan.

Ia kembali ke Argentinos Juniors dan membantu klub masa kecilnya promosi ke kasta tertinggi sebelum memutuskan pensiun. Alasannya sangat sederhana sekaligus sangat Riquelme, yakni ia tidak ingin menghadapi Boca dengan mengenakan seragam klub lain.

Delapan tahun kemudian, karena dinamika politik dan pandemi Covid-19, pesta perpisahan yang tertunda akhirnya terlaksana pada Juni 2023. Messi, Angel Di Maria, Pablo Aimar, Walter Samuel, Javier Saviola, Mauricio Serna, dan Hugo Ibarra termasuk nama yang hadir.

“Saya cukup beruntung untuk masuk ke sebuah film pada 10 November 1996,” kata Riquelme ketika mengenang hari debutnya bersama Boca. Ia mengatakan menjadi pesepakbola merupakan satu-satunya mimpinya sejak kecil dan menyatakan dirinya akan meninggal sebagai pendukung Boca.

Juan Roman Riquelme Melampaui Status Seorang Pemain

Pengaruh Juan Roman Riquelme akhirnya memasuki dimensi yang bahkan tidak pernah dicapai sebagian besar legenda klub, yakni kendali langsung terhadap institusi yang membesarkan namanya. Ia beralih dari pemain, ikon tribune, pengurus, hingga akhirnya menjadi presiden Boca Juniors.

Situs resmi Boca hingga kini mencantumkan Riquelme sebagai presiden klub, direktur umum sepak bola profesional dan amatir, serta wakil utama klub di AFA. Perubahan tersebut membuat hubungan Riquelme dengan Boca tidak berhenti ketika sepatu bolanya digantung.

Dalam sumber awal, Juan Roman Riquelme disebut memenangi pemilihan presiden dengan 64,4 persen dari rekor 43.637 suara yang masuk. Kemenangan politik itu menjadi bentuk lain legitimasi yang sebelumnya telah diperolehnya melalui permainan dan dukungan tribune.

Pada 2026, keberadaannya di pusat proyek Boca masih sangat nyata, termasuk ketika ia berbicara mengenai rencana perluasan La Bombonera. Ia menegaskan klub memilih menjalankan proses perizinan secara benar daripada menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi.

Di sinilah perbandingan antara Juan Roman Riquelme dan Diego Maradona menjadi lebih mudah dipahami tanpa harus menentukan siapa pesepakbola terbaik. Maradona merupakan figur global yang jauh melampaui Boca, sementara hubungan Riquelme dengan klub tersebut bersifat jauh lebih mendalam.

Maradona pernah mengenakan seragam Boca dan menjadi salah satu ikon paling besar dalam sejarah Argentina, tetapi Riquelme tumbuh, berjaya, pulang, pensiun, masuk politik klub, kemudian menjadi presidennya. Hampir seluruh siklus kehidupannya sebagai figur sepak bola berputar mengelilingi warna biru-kuning.

Karena itulah suara La Bombonera pada malam perpisahan 2023 memiliki arti lebih besar daripada sekadar chant untuk seorang mantan pemain. Ribuan pendukung pada dasarnya sedang mendefinisikan sendiri siapa tokoh yang paling mewakili identitas Boca bagi generasi mereka.

Juan Roman Riquelme tidak membutuhkan kecepatan luar biasa untuk mendominasi pertandingan dan tidak pernah mengikuti perkembangan sepak bola hanya demi menyesuaikan diri. Ia membuat tim, pelatih, lawan, dan terkadang seluruh stadion harus menyesuaikan diri dengan ritmenya.

Di Barcelona, karakter tersebut dianggap sulit diakomodasi, sedangkan di Villarreal justru menjadi bahan bakar perjalanan bersejarah menuju empat besar Liga Champions. Bersama Boca, karakter yang sama berkembang menjadi filosofi, simbol pemberontakan, dan akhirnya sumber kekuasaan.

Warisan Juan Roman Riquelme karena itu tidak terletak pada satu malam, satu gelar, atau satu keterampilan teknis yang bisa ditampilkan dalam video singkat. Warisannya hidup melalui cara pendukung Boca memandang permainan, klub, dan nomor 10 mereka.

Maradona pernah mengatakan melihat dirinya sendiri dalam Riquelme, tetapi perjalanan berikutnya menunjukkan Roman tidak membutuhkan hidup di bawah bayangan siapa pun. Di La Boca, ia akhirnya membangun mitologinya sendiri sampai suporter menempatkan namanya pada posisi paling tinggi.

Bertahun-tahun setelah pertandingan terakhirnya sebagai pemain, Juan Roman Riquelme masih berada di jantung Boca Juniors dan menentukan arah institusi tersebut. Sang “El Mudo” yang dulu terkenal jarang berbicara kini justru menjadi salah satu suara paling menentukan di La Bombonera.

Mungkin itulah alasan paling kuat mengapa sebagian pendukung Boca berani menempatkannya di atas Diego Maradona dalam hierarki mereka sendiri. Juan Roman Riquelme tidak sekadar memainkan sepak bola Boca, tetapi perlahan berubah menjadi representasi hidup tentang apa arti menjadi Boca Juniors.

Juan Roman Riquelme, Pria yang Melampaui Maradona sebagai Legenda Boca Juniors

05 Okt 2026

Generasi Emas Baru Yunani Meledak, Euro 2028 Jadi Harga Mati

05 Okt 2026

Santi Denia Sebut Anthony Gordon Setara Lamine Yamal, Ini Alasan Logisnya

05 Okt 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.