Sepak bola Italia yang selama bertahun-tahun identik dengan permainan defensif kini memperlihatkan perubahan menarik pada awal musim 2026/2027. Serie A mulai menghadirkan pertandingan terbuka, produktivitas gol tinggi, dan persaingan yang semakin sulit diprediksi.
Kebangkitan Serie A menjadi perhatian setelah sejumlah klub Italia menunjukkan perkembangan permainan menyerang, termasuk Lazio, Inter Milan, AS Roma, dan Frosinone. Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan apakah kompetisi yang pernah mendominasi Eropa pada era 1990-an mulai menemukan kembali daya tariknya.
Situasinya terasa kontras dengan kondisi sepak bola Italia yang belum lama ini mengalami pukulan berat setelah tim nasional kembali gagal lolos ke Piala Dunia. Kegagalan untuk ketiga kalinya secara beruntun memperlihatkan persoalan mendalam dalam pembinaan pemain dan pengelolaan sepak bola nasional.
Krisis tersebut semakin terasa ketika empat wakil Serie A mengalami kekalahan pada pekan pertandingan Liga Champions yang sama, sebuah catatan yang menimbulkan kritik. Namun, kemenangan mereka pada pertandingan berikutnya memperlihatkan bahwa kualitas klub Italia tidak bisa dinilai dari satu rangkaian hasil buruk.
Menurut GOAL, perubahan gaya bermain, munculnya pemain muda, dan pembenahan infrastruktur menjadi tanda kebangkitan sepak bola Italia. Meski masih menghadapi persoalan besar, Serie A mulai menawarkan pertandingan yang lebih menarik bagi penonton.
Serie A Bangkit dari Krisis, Persaingan Papan Atas Semakin Panas
Perubahan wajah Serie A terlihat jelas melalui klasemen setelah sepuluh pertandingan ketika Lazio secara mengejutkan memimpin persaingan dengan koleksi 28 poin. Klub asal ibu kota Italia itu belum terkalahkan setelah membukukan sembilan kemenangan dan satu hasil imbang.
Inter Milan menempati posisi kedua dengan 25 poin, disusul AS Roma yang mengumpulkan 24 poin dan Como dengan 23 poin. Selisih hanya lima angka antara empat tim teratas menunjukkan persaingan gelar masih sangat terbuka pada awal musim.
Hal menarik bukan hanya perubahan posisi klasemen, melainkan bagaimana beberapa klub yang sebelumnya tidak diperhitungkan mampu bersaing dengan kekuatan tradisional. Como dan Frosinone menjadi contoh keberhasilan membangun tim kompetitif tanpa harus memiliki sejarah sebesar Juventus, Milan, atau Inter.
Sebaliknya, Napoli dan Juventus belum menunjukkan konsistensi yang diharapkan setelah sepuluh pertandingan pertama kompetisi musim ini. Napoli berada di posisi kedelapan dengan 14 poin, sedangkan Juventus menempati peringkat ketujuh setelah mengumpulkan 17 angka.
Persaingan tersebut memberi warna berbeda dibandingkan periode ketika gelar Serie A sering didominasi sejumlah klub dengan kekuatan finansial dan kedalaman skuad besar. Kini, organisasi permainan dan keberanian mengembangkan identitas taktik semakin menentukan kemampuan sebuah tim memperoleh hasil.
Kejutan juga terlihat dari Frosinone yang baru promosi tetapi mampu menempati posisi keenam dengan koleksi 20 poin dari sepuluh pertandingan. Klub tersebut bukan hanya bertahan menghadapi persaingan level tertinggi, melainkan tampil menyerang dengan torehan 24 gol.
Pencapaian Frosinone memperlihatkan bahwa klub dengan sumber daya lebih terbatas tetap dapat menjadi ancaman apabila memiliki organisasi permainan efektif. Situasi ini sekaligus mengubah gambaran Serie A sebagai kompetisi yang hanya mengandalkan pertahanan rapat dan serangan balik.
Serie A Kini Banjir Gol, Citra Sepak Bola Bertahan Mulai Berubah
Perubahan paling mencolok dalam Serie A musim ini adalah meningkatnya produktivitas gol yang membuat pertandingan berlangsung lebih terbuka dan menghibur. Setelah sepuluh pekan, kompetisi telah menghasilkan 303 gol dari 100 pertandingan atau rata-rata sekitar 3,03 gol setiap laga.
Angka tersebut menarik karena sepak bola Italia selama bertahun-tahun dikenal sebagai tempat berkembangnya organisasi pertahanan yang disiplin dan taktik berhati-hati. Namun, sejumlah pelatih kini lebih berani menggunakan tekanan tinggi, transisi cepat, serta pergerakan menyerang untuk menciptakan peluang.
AS Roma menjadi tim paling produktif setelah mencetak 28 gol dalam sepuluh pertandingan, sementara Inter Milan mengikuti dengan koleksi 26 gol. Lazio dan Frosinone masing-masing menghasilkan 24 gol, memperlihatkan bahwa ketajaman serangan tidak hanya dimiliki klub dengan skuad mahal.
Enam tim tersubur Serie A
Jumlah gol setelah 10 pertandingan musim 2026/2027

Kondisi tersebut menghadirkan perbedaan menarik dibandingkan stereotip lama yang menganggap pertandingan Serie A lebih banyak ditentukan duel taktik daripada kreativitas menyerang. Sejumlah klub kini memperlihatkan keberanian menciptakan pertandingan dengan tempo tinggi meskipun menghadapi risiko kehilangan keseimbangan pertahanan.
Perubahan karakter kompetisi juga terlihat dari pertandingan Derby della Madonnina ketika AC Milan mengalahkan Inter dengan skor 3-1 pada 31 Oktober 2026. Kemenangan itu menjadi semakin menarik karena beberapa hari sebelumnya Milan justru dipermalukan Bologna dengan skor 2-4.
Dua hasil tersebut menggambarkan betapa sulitnya mempertahankan konsistensi ketika persaingan berlangsung terbuka dan setiap kesalahan bisa berujung gol. Namun, peningkatan produktivitas belum otomatis membuktikan Serie A lebih berkualitas dibandingkan kompetisi lain karena aspek pertahanan dan intensitas tetap perlu dinilai.
Como Buktikan Klub Italia Bisa Bersaing Tanpa Belanja Pemain Sembarangan
Kebangkitan Como menjadi salah satu cerita paling menarik karena klub tersebut berhasil membangun identitas permainan jelas di bawah kepemimpinan Cesc Fabregas. Dukungan finansial pemilik asal Indonesia yang berkaitan dengan Grup Djarum memberikan fondasi penting, tetapi keberhasilan mereka juga bergantung pada strategi perekrutan.
Como tidak hanya mengandalkan pembelian pemain dengan harga tinggi, melainkan berusaha menemukan talenta muda dan pemain yang cocok dengan pendekatan taktik pelatih. Strategi tersebut membantu klub menciptakan tim yang mampu menguasai bola, membangun serangan, serta menghadapi lawan dengan reputasi lebih besar.
Perkembangan Como semakin mendapat perhatian setelah berhasil mengalahkan Manchester United dalam pertandingan Eropa, sebuah hasil yang memperkuat reputasi mereka. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa klub Italia dapat bersaing melalui organisasi permainan, meskipun kemampuan finansial lawannya jauh lebih besar.
Pendekatan serupa sebelumnya pernah diperlihatkan Atalanta ketika membangun kekuatan melalui pengembangan pemain, sistem kepelatihan, dan rekrutmen yang terarah. Model tersebut membuktikan bahwa keberhasilan dalam sepak bola modern tidak hanya ditentukan besarnya pengeluaran, melainkan efektivitas penggunaan sumber daya.
Inter Milan juga memberikan contoh melalui keberhasilannya mencapai dua final Liga Champions dalam tiga musim dengan kebijakan transfer yang relatif terukur. Giuseppe Marotta memainkan peran penting dalam membangun skuad kompetitif melalui perekrutan pemain yang sesuai kebutuhan dan pengelolaan biaya.
Namun, perbedaan kemampuan finansial dengan klub-klub Liga Inggris tetap menjadi tantangan karena pendapatan komersial dan hak siar Italia masih tertinggal. Karena itu, kemampuan menemukan pemain potensial dan membangun sistem permainan efektif menjadi strategi penting untuk menjaga daya saing.
Generasi Baru Mulai Bermunculan, Serie A Tak Lagi Sekadar Tempat Pemain Veteran
Perubahan lain yang memperkuat daya tarik Serie A adalah meningkatnya perhatian terhadap pemain muda yang sebelumnya sering kesulitan memperoleh kesempatan tampil. Kompetisi Italia mulai memperlihatkan sejumlah talenta yang mampu memberikan kontribusi penting meskipun belum mempunyai pengalaman panjang.
Nama Kenan Yildiz, Nico Paz, dan Francesco Pio Esposito sudah lebih dahulu mendapatkan perhatian karena kemampuan mereka bersaing di level tertinggi. Kini, sejumlah pemain seperti Kerim Alajbegovic, Franco Mastantuono, Gustavo Varela, Samuel Mbangula, dan Alieu Njie turut menunjukkan potensi.
Kemunculan pemain muda menjadi perkembangan penting bagi sepak bola Italia yang sebelumnya mendapat kritik karena terlalu mengandalkan pengalaman pemain senior. Namun, keberhasilan tersebut perlu diikuti kesempatan bermain berkelanjutan agar talenta baru tidak hanya menjadi pelengkap dalam skuad.
Perhatian juga tertuju kepada pemain muda Italia seperti Alphadjo Cisse, Simone Lantini, Emanuele Lulli, dan Antonio Raimondo yang mulai menunjukkan perkembangan. Kehadiran mereka dapat memberikan pilihan tambahan bagi Roberto Mancini dalam upaya membangun kembali kekuatan tim nasional.
Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi pukulan besar karena negara tersebut juga absen pada dua edisi sebelumnya. Kekalahan adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina pada 31 Maret 2026 memperpanjang krisis yang menimbulkan pertanyaan tentang sistem pembinaan pemain.
Legenda Juventus Alessandro Del Piero menilai persoalan pembinaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, melainkan juga pendekatan terhadap kreativitas pemain muda. Ia mengkritik kecenderungan pelatih yang terlalu banyak memberikan instruksi sehingga pemain kesulitan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi berbeda.
Kritik tersebut relevan karena sepak bola modern membutuhkan pemain yang mampu beradaptasi terhadap perubahan permainan tanpa selalu menunggu arahan pelatih. Apabila klub-klub Serie A mulai memberikan kebebasan lebih besar, perkembangan talenta lokal berpeluang memperoleh manfaat dalam jangka panjang.
Stadion Tua Masih Jadi Ancaman, Euro 2032 Menentukan Masa Depan Serie A
Di balik perubahan positif permainan, Serie A masih menghadapi masalah besar yang berkaitan dengan kondisi stadion dan kemampuan menghasilkan pendapatan. Sejumlah fasilitas pertandingan telah berusia puluhan tahun dan belum mengalami modernisasi menyeluruh sejak Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1990.
CEO Serie A Luigi De Siervo mengungkapkan bahwa usia rata-rata stadion di Italia telah melampaui 70 tahun sehingga menjadi hambatan pengembangan bisnis. Klub-klub juga masih sangat bergantung pada pendapatan hak siar televisi dibandingkan pemanfaatan fasilitas stadion dan aktivitas komersial lainnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah klub Liga Inggris yang sudah menikmati pemasukan besar dari tiket premium, fasilitas hiburan, serta layanan pertandingan. Stadion modern memberikan kesempatan meningkatkan pendapatan yang kemudian dapat digunakan untuk memperkuat skuad dan membangun infrastruktur pengembangan pemain.
Persiapan Euro 2032 menjadi momentum penting karena Italia harus menyediakan stadion yang memenuhi persyaratan UEFA sebagai tuan rumah bersama Turki. Federasi Sepak Bola Italia telah mengajukan 14 kandidat stadion dari 13 kota untuk menjalani pemeriksaan sebelum menentukan lima lokasi pertandingan.
Namun, tidak semua stadion yang diajukan sudah memenuhi persyaratan sehingga proyek pembangunan dan renovasi masih membutuhkan pekerjaan besar. UEFA akan memeriksa 120 persyaratan operasional dalam sebelas bidang, termasuk keselamatan, aksesibilitas, keberlanjutan, dan fasilitas pendukung pertandingan.
Sejumlah proyek mulai memperlihatkan perkembangan, termasuk renovasi Stadion Artemio Franchi milik Fiorentina dan rencana pembangunan fasilitas baru di Bologna. AC Milan dan Inter juga merencanakan stadion baru yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komersial kedua klub.
Meski demikian, pembangunan stadion membutuhkan investasi besar dan harus melewati proses birokrasi yang selama ini sering memperlambat proyek infrastruktur Italia. De Siervo memperkirakan manfaat penuh model ekonomi stadion baru belum akan terlihat setidaknya dalam enam hingga tujuh tahun.
Keterlambatan modernisasi berisiko memperbesar kesenjangan pendapatan antara klub Italia dan pesaing mereka di Eropa, terutama dari Liga Inggris. Karena itu, pembangunan stadion harus dilihat sebagai bagian dari strategi memperkuat kompetisi, bukan hanya persiapan menyelenggarakan turnamen internasional.
Apakah Serie A Kini Lebih Menarik daripada Liga Inggris?
Perkembangan Serie A sepanjang sepuluh pekan pertama memberikan alasan untuk menilai bahwa kompetisi Italia sedang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Produktivitas gol meningkat, persaingan papan atas berlangsung ketat, dan sejumlah klub berhasil menghadirkan kejutan melalui permainan menyerang.
Namun, menyebut Serie A sudah melampaui Liga Inggris secara keseluruhan masih terlalu dini karena kualitas kompetisi tidak hanya ditentukan jumlah gol. Kekuatan finansial, konsistensi klub di Eropa, kedalaman skuad, serta kualitas pengembangan pemain tetap menjadi bagian penting penilaian.
Liga Inggris masih memiliki keunggulan besar melalui pendapatan hak siar internasional, daya tarik sponsor, dan kemampuan mendatangkan pemain dengan biaya tinggi. Sebaliknya, Serie A mulai menawarkan persaingan yang menarik karena klub-klubnya semakin mengandalkan kreativitas taktik dan pengelolaan skuad.
Dalam jangka pendek, peningkatan jumlah gol dan munculnya tim kejutan menjadi modal penting untuk menarik kembali perhatian penonton internasional. Namun, perubahan tersebut harus berlangsung konsisten agar kebangkitan Serie A tidak hanya menjadi fenomena pada awal musim.
Kesempatan terbesar sepak bola Italia justru terletak pada kemampuannya menggabungkan tradisi taktik yang kuat dengan pendekatan permainan modern yang lebih menyerang. Apabila pembenahan stadion dan pengembangan pemain muda berjalan seiring, daya saing kompetisi dapat meningkat secara lebih berkelanjutan.
Serie A mungkin belum kembali menjadi pusat sepak bola dunia seperti pada masa kejayaan 1990-an, tetapi tanda-tanda perubahan mulai terlihat jelas. Persaingan yang ketat, pertandingan produktif, dan keberanian memberi kesempatan kepada pemain muda kini menawarkan alasan baru untuk mengikuti sepak bola Italia.


